Rabu, 21 November 2012

VISUAL PUISI





SENI PERTUNJUKAN SASTRA VISUAL PUISI
IBRAHIM SATTAH




            Puncak kejayaan  Seni Pertunjukan (baca teater) di Riau berkisar sekitar tahun 80-an.  Pergerakan ini diawali dengan tumbuhnya secara beruntun grup-grup teater di daerah yang dimotivasi oleh Departemen Penerangan RI, yang melaksanakan Lomba Pertunjukkan Rakyat sejak dari kecamatan, kabupaten, provinsi sampai berakhir di tingkat nasional setiap tahunnya. Kemudian lahirnya ‘Praktikum Sastra’ Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fkip Unri yang dipromotori oleh Syafruddin Saleh.Sai Gergaji; Al-Azhar; Temul Amsal; Dasri Al-mubari dengan ketua Program tudinya Dra.Saidat Dahlan pada tanggal 4 Februari 1980. Kembalinya Ediruslan Pe Amanriza ke Pekanbaru, setelah sekian lama bermukim di kota Padang. Semaraknya kegiatan kesenian di ‘Gedung Serbaguna, Pusat Olah Seni Taman Budaya Pekanbaru pimpinan OK.Nizami Jamil, ditambah lagi dengan sanggar2 teater ada di Ibukota Propinsi ini antara lain : Sanggar teater “BAHANA” (Idrus Tintin), teater “GEMA” (Temul Amsal); Sanggar teater BTB (Ibrahim Sattah) ; Sanggar teater “Depdikbud Kodya” (M.Rasul) ; Sanggar teater “DANDAN LAKSEMANA” (Rusli Not) : Teater “BIANGLALA” (T. Ubaidillah) ; Teater “OBOR” (Fakhraini MA.Jabbar). BINA TEATER BANGKIT (Dasri Al-Mubari) ; Sanggar teater “LOPAK” (Tyas.AG) Teater IAIN SUSQA (Ayatullah Aris Abeba) dan banyak lagi yang saya tak ingat lagi namanya.

            Seperti kata yang diucapkan Seniman Indonesia Leon Agusta ketika menyampaikan ceramahnya di depan peserta lomba Festival Teater Remaja 27 Januari 1984 di Pekanbaru, :  “Membangkitkan kembali kegagahan teater di Riau, haruslah lahir dari desa-desa, dari sudut-sudut keterpencilan Riau. Sementara Pekanbaru hanya cocok untuk pesta dan mabuk-mabuk”, (Genta, Minggu IV, Januari 1984), Beliau juga mengemukakan bahwa teater di Riau mencul gagah dengan kemurniannya, semantara kebanyakan teater di kota-kota besar seperti Jakarta berlomba-lomba menjadi modern, lebih modern dan sebagainya tanpa menempah kemodernan baik-baik.

            Dalam kancah pergolakan teater di Riau inilah, di Pekanbaru, Ibrahim Sattah melahirkan sebuah bentuk pementasan yang lain dari bentuk biasa. Pementasan itu diberinya nama “VISUAL PUISI”.

            Kalau begitu apa itu “VISUAL PUISI”….?  Dan bagai mana pula bentuk serta tata-cara pementasannya….? Untuk menjawabnya tentu Saya juga terpaksa kembali berbalik kebelakang. Meninjau lagi perkataan Ibrahim Sattah sekitar tahun 80-an, dalam salah satu diskusi sastra di Aula Universitas Islam Riau di jalan M.Yamin (dekat pasar Senapelan sekarang) yang waktu itu dihadiri oleh banyak seniman diantaranya : Saya, Syafrudin Saleh Sai.Gergaji, Fakhrunas MA.Jabbar, Al Azhar dan Bang Rida Kaliamsi. Banyak diantara yang hadir, meminta penjelasan kepada Ibrahim Sattah tentang sajak-sajak beliau yang amat sulit dimengerti oleh pembaca maupun pendengarnya. Saya masih ingat, dengan senyum beliau menjawab , “Kalau sajak-sajak saya dapat diartikan sebagaimana prosa, lebih baik saya berpidato saja”.

            Agaknya tinjauan saya tentang jawaban Ibrahim Sattah terhadap sajak-sajaknya di atas, bisa dijadikan bahan perenungan guna menjawab pertanyaan tentang apa itu Visual Puisi. Menurut hemat saya seandainya para penonton pertunjukan yang diberinya nama Visual Puisi itu dengan mudah mampu menerjemahkan apa yang dilihatnya, tentu Ibrahim akan menyutradarai anak-anak teaternya bermain drama saja. Tapi buktinya kan tidak. Kemampuan Ibrahim dalam soal ini memang perlu diacungkan jempol. Tanpa kita tahu ‘apa dan mengapa’, secara tiba-tiba kita terpukau oleh penampilannya. Kita seolah-olah berada di dunia lain…heran, kagum dan terperangah, sehingga tak sadarkan teman yang berada sama menonton di kiri kanan kita.  Dalam pementasannya dia tidak banyak menggunakan property.  Ketika saya datang menghadiri sebuah pertunjukannya. Ketika layar di buka, yang saya lihat  hanyalah pentas kosong dengan latar belakang layar hitam sebagaimana biasanya.  Seseorang masuk  membacakan  satu kata “pukau” (mungkin itu judul sebuah sajak). Tapi alangkah terkejutnya saya ketika suara itu menimbulkan gema dari segala arah, berbarengan dengan itu  dari latar hitam di belakang pentas, bermunculan berpuluh-puluh kepala lelaki dan perempuan sambil meneriakkan beberapa baik sajak dengan kata-kata puitis. Sebelumnya peristiwa di pentas itu tak pernah terbayangkan dalam benak saya. Ibrahim memang hebat.

            Selain Ibrahim, teater “BAHANA” juga sering menam pilkan Visual Puisi dalam berbagai acara. “Praktikum Sastra” Program Studi Bahasa Indonesia Jurusan Bahasa dan Seni FKIP UNRI malah setiap tahun melombakan pergelaran Visual Puisi untuk Umum. Acara perlombaan ini tercatat di Leident – Belanda. 

 --------------


Selasa, 13 November 2012

PERGELARAN TEATER







PERGELARAN TEATER
SEKITAR BANDAR SERAI PEKANBARU
KEHILANGAN SOSOKNYA



Anjungan Seni Idrus Tintin


            Saya sangat bergembira, ketika dua orang rekan mengajak saya nonton pergelaran teater di Bandar Serai Pekanbaru pada tanggal  10 Nopember 2012 yang lalu. Pergelaran tersebut diisi oleh lebih kurang 14 Sanggar Teater dalam rangka menyemarakkan Hari Teater Moderen Riau. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang perkembangan teater di daerah ini.

            Sebagai seorang pencinta Seni Teater, saya sudah dapat membayangkan, betapa megahnya upacara yang dimeriahkan dengan pergelaran dari sekian banyak grup. Cuman suatu pertanyaan timbul di benak saya, apakah 14 sanggar teater tersebut bisa habis tampil dalam satu malam. Sedangkan menurut pengalaman waktu saya sering jadi juri Pertunjukan Rakyat di Departemen Penerangan dulu, paling banyak dalam satu malam hanya dapat ditampilkan tiga pergelaran saja. Mengingat satu pergelaran yang paling minim untuk sebuah pementatasan diperlukan waktu 30 menit, tambah 10 menit guna pengaturan setting, untuk satu pertunjukan teater konfensional.

            Macam mana dengan teater modern yang pagelarannya penuh dengan teaterikal dan kecanggihan tekhnologi saat ini, disamping naskah, sutradara dan para pemain sebagai aktor, rias wajah, tata panggung dan tata lampu mempunya keunikan pula dengan nuansa seni tersendiri dalam mendukung pergelara tersebut. Kalau ini diabaikan, berarti kita kembali lagi berpijak dari dasar semula, seperti di tahun 60-an.

            Betapa tersentuh dan terenyuhnya hati saya, saat saya Kazzaini KS, Mosthamir Thalib (ketua dan wkl ketua DKR) dan Tengku Ubaidillah.(tokoh Drama Klasik Riau) sampai di tempat pergelaran.

            Ternyata pergelaran teater modern dalam rangka memeriahkan Hari Teater Modern Riau 10 Nopember tersebut dilaksanakan di pelataran halaman Anjungan Seni Idrus Tintin. Diatas tanah, tanpa pentas, dengan hanya diterangi lampu jalan. Layaknya seperti layaknya menonton sebuah pertunjukan randai di tahun 80-an. Waktu pergelaran satu sanggar tak lebih dari 10 sampai lima belas menit.

            Inikah ‘Teater Modern’ itu…? Tanya Kazzaini Ketua Dewan Kesenian yang berdekatan dengan saya. Saya juga bingung jadinya… Terus terang saya tak dapat menjawab pertanyaan salah seorang rekan saya. Sebab menurut pengalaman saya, bentuk pergelaran macam itu adalah pergelaran teater tradisional zaman dulu. Tapi kalau ini juga mau dikatakan ‘teater modern’, saya juga tak tahu, karena saya bukanlah seorang pakar dibidang ilmu teater, dan saya tidak punya ijazah sekolah teater. Bagi saya teater hanya kegemaran sejak kecil sampai saat ini. Berbeda sekali dengan kebanyakkan dari mereka yang sedang melakukan pergelaran tersebut, sebab mereka  adalah mahasiswa “Sekolah Tinggi Kesenian Riau” jurusan teater yang punya pengetahuan luas tentunya. Disamping itu amat disayangkan kalau pergelaran dalam rangka Pencanangan Hari Teater Modern Riau dilakukan di halaman, dengan peralatan seadanya, padahal di belakang mereka tersergam sebuah Gedung teater yang serba modern (katanya bertaraf internasional) yang biayanya pembangunannya puluhan miliar rupiah.

            Herannya saya, sewaktu diskusi dilaksanakan selepas pergelaran tersebut, masing2 dengan penuh kebanggaan mengeluarkan pendapat, bahwa merekalah pewaris dan penerus perkembangan ‘teater modern di Riau’ yang bakal memberikan warna baru di kancah perteateran 'Indonesia' (baca : Raiau Pos.co “ Hari Teater Modern Riau dideklarasi kan”).
               Sebagai seorang pencinta teater, saya merasa kecewa dengan pergelaran teater yang akhir-akhir ini saya saksikan   di Bandar Serai Pekanbaru ( baik di Anjungan Seni Idrus Tintin maupun di Laman Bujang Mat Syamsudin.) Terus terang saya katakana, beberapa bulan terakhir saya belum pernah menyaksikan pergelaran teater (baik teater modern, konvensional atau tradisional) dengan tata cara / pola yang sebenarnya. Yang selalu saya lihat hanyalah pergelaran sejenis ‘eksprimen’, ‘monolog’ dan pergelaran ‘ala teater tradisional’ itu tadi. Malah pada malam tanggal 12 Nopember lalu, setelah membaca sajak dengan teman2 wartawan, saya juga nonton sebuah pergelaran “Visual Puisi” yang dipergelarkan oleh mahasiswa jurusan teater. Sekolah Tinggi Kesenian Riau tersebut di  gerbang pintu masuk Bandar Serai Pekanbaru….Nyatanya yang saya lihat hanyalah suatu lakon fragment, tanpa setting pentas yang memadai.

Sebaiknya, sebagai pekerja teater yang belum profesional, mereka mau bertimbang rasa dengan mementaskan karya-karya penulis naskah yang sudah mapan terlebih dahulu, sementara mereka terus berusaha mendalami dramaturgi, pola-pola teater yang sudah ada dan mempelajari bagaimana tata-cara penulisan naskah drama yang baik.


Naskah Teater Bangsawan karya Teras dan Teas
"ABU NAWAS" yang ditulist tahun 1960



Naskah Teater Bangsawan karya Tenas Effendy 
" LAKSEMANA MEGAT SERI RAMA" ditulis tahun 1962


Bagi insan teater, terutama bagi mereka yang bakal menjadi pemegang estapet pengembangan kehidupan teater di Riau, saya sangat berharap agar pengertian 'teater modern' jangan dipersempit. terfocus berdasar teori yang hanya didapat di buku petunjuk dan mata kuliah saja. Kalau hanya sekedar :
-     pengadaan naskah
      -         penyutradaraan
      -         penceritaan keadaan yang berkembang saat ini
      -         dan tata busana zaman sekarang

Teater-teater daerah (teater konvensional) seperti Dul Muluk, Teater Bangsawan, Mendu dll, sudah sejak tahun 60-an melakukan hal yang sama.


batang gaharu diatas gunung
usah dipepat dibuat sampan
kalau baru mula berdayung
jangan nak cepat sampai ketujuan

Selamat berkereatifitas…..!!!

Sabtu, 24 Maret 2012

"SEMENANJUNG" Seni Melayu Nan Dijunjung




PUSAT LATIHAN SENI “SEMENANJUNG”

Memperkaya kesenian nasional dengan Teater Bangsawan dari Riau



Oleh : Temul Amsal

-------------------------------------------------------

          Dimana ada kemauan disitu ada jalan.  Begitulah sikap sekelompok anak muda asal Riau yang kuliah di Jakarta melaksanakan sepak terjangnya melakukan kreatifitas dibidang seni menyeni demi memperkenalkan keberadaan daerah mereka di tingkat nasional. Walau beum mampu berdiri sejajar dengan Ketoprak, Lenong Betawi dan seni pertunjukan sejenisnya yang memang sudah berurat-berakar di daerah tersebut, setidak-tidaknya mereka telah berusaha menggali lobang untuk menegakkan panji-panji kesenian Riau di Ibukota Negara ini. Dengan demikian secara berangsur-angsur, orang akan mengenal Riau tatkala satu persatu diantara mereka menoleh dan memperhatikan negeri Melayu Riau pada saat panji-panji itu berkibar.


Dalam hal ini peran Asrizal Nur, (seniman) putra kelahiran Pekanbaru, yang kini bermukim di Jakrta, sebagai pencetus ide, kemudian didukung sepenuhnya oleh HM.Lukman Edy, (Ketua Umum Persatuan Masyarakat Riau Jakarta) PMRJ, merupakan landasan utama sebagai dasar berpijak bagi pengembangan kreatifitas anak-anak muda tersebut.


Berdirinya Pusat Latihan Seni “Semenanjung “ (seni melayu nan dijunjung) di tahun 2010, yang diketui oleh Robithoh Alamhadi Faisal (mahasiswa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) tersebut, tak luput dari motivasi yang diluncurkan oleh kedua tokoh diatas. Selanjutnya Robithoh bersama teman-temannya dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi yang berbeda seperti : Said Rega Syahringga, Agustina, Mhd. Damri, Deddy Hendrawan, Masitoh, Maria Darwis, Mhd.Ashsubli, Afni Noviyanti, Mohd.Rasyid Ridho, Supriadi, Azlin Arifin, Mhd.Zuchri Fachrun, Khairul Anwar, Ruddy dan lain-lain, patut dicatat atas keberhasilan mereka menghidupkan kembali seni pertunjukkan Teater Bangsawan yang di negerinya sendiri, sudah hampir menghilang dari pandangan. Keberhasilan mereka ini, ditandai dengan pagelaran perdananya berjudul ‘Keris Menjadi Saksi’ naskah Temul Amsal yang disutradarai oleh Asrizal Nur, di Gedung Kesenian Miss Tjihtjih Jakarta tanggal 8 Agustus 2010.


          Dipilihnya teater bangsawan, Menurut HM. Lukman Edy selaku pembina; disebabkan Seni Pertunjukan Riau yang satu ini, memiliki unsur yang kompleks, yakni terdiri dari gabungan unsur seni tari, nyanyi, syair, humor,  bela diri, sastra dan seni lakon itu sendiri.  Kemudian oleh sutradaranya Asrizal Nur, seni pertunjukan konvensional asal Riau tersebut di kolaborasikan dengan sentuhan moderen atas bantuan beberapa tenaga ahli diantaranya Dody (penata video) dan Parulian (penata lampu). Pageralan perdana “Semenanjung”, ini ditampilkan dengan bahasa pengantar bahasa Melayu Riau dan tanpa diduga ternyata mendapat sambutan hangat dari kalangan seniman, mahasiswa dan masyarakat Riau Jakarta yang turut menyaksikan pagelaran tersebut.



          Teater Bangsawan yang pada mulanya berada dikalangan istana, mengangkat cerita rakyat, cerita raja-raja masa lampau. Kemudian secara lisan cerita tersebut   berkembang dari mulut ke mulut, sehingga banyak dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Akhirnya Teater Bangsawan meluas sampai keluar istana dan dapat dinikmati masyarakat biasa sebagai sarana hiburan yang amat digemari. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya cerita  dalam Teater Bangsawan banyak mengangkat kejadian-kejadian yang terdapat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Cerita-cerita yang berkembang dalam kehidupan masyarakat ini  umumnya disesuaikan dengan citarasa masyarakat lingkungannya dan perkembangan masyarakat itu sendiri. Cerita-cerita tersebut lebih banyak berisikan aspek - aspek kebudayaan, khususnya kebudayaan masyarakat Melayu Riau. Cara penyajiannya dilakukan dengan selingan selingan lelucon dan tari-tarian serta nyanyian yang sifatnya menghibur, sehingga sangat komunikatif dengan masyarakat penontonnya yang pada waktu itu terdiri dari orang-orang melayu. 

          Termotivasi oleh keberhasilan pagelaran perdananya ini, menimbulkan semangat dan keinginnan anak-anak muda tersebut semakin menggejolak. HM.Lukman Edy menyambut baik hal ini, ia menyewakan sebuah rumah di Ciputat, rumah tersebut djadikan Sanggar tempat anak-anak melaksanakan latihan, disamping pihak pengelola Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah juga memberikan kesempatan bagi anak-anak muda ini untuk melakukan latihan di sana. Hingga pada suatu ketika pagerlaran tersebut oleh PMRJ, DPRD Riau, Gubernur Riau yang direstui oleh Kementrian Pariwisata RI merasa perlu Kesenian Riau ini dipublikasikan ke Asia Tenggara, sebagai Duta Budaya Bangsa di Asia Tenggara khususnya untuk kalangan muda.





Road Show Asia Tenggara, (Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) dilaksanakan pada bulam Oktober 2010. Dilepas oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia dengan satu pagelaran  di Gedung Sapta Pesona Jakarta tanggal 21 Oktober 2010, yang disaksikan oleh 12 (dua belas) orang Duta Besar Negara Tetangga, Ketua DPRD Riau, Gubernur Riau, Ketua Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Riau, beberapa pejabat terkait dan para undangan, malam sebelum rombungan berangkat ke Brunai Darussalam.

Kedatangan Rombongan  di Brunei Darussalam mendapat sambutan hangat dari ASTERAWANI (Angkatan Sasterawan dan Sasterawani) Brunei. Pagelaran dilaksanakan di Dewan Raya Radio Televisyen Brunei, Bandar Seri Begawan tanggal 23 Oktober 2010. Dihadiri oleh tamu kehormatan Yang Mulia Dato Paduka Awang Haji Jemat bin Haji Ampal, Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan, dari Dewan Bahasa dan Pustaka, dari Radio Televisyen Brunei, dari Klab Rakis (Universitas Brunei Darussalam), Kedutaan Besar Republik Indonesia Brunei, Media Massa  dan lain sebagainya.
                    


          Keberhasilan Road Show Asia Tenggara ini, tidak berakhir sampai di situ. Pada priode 2011 dengan ketua Sanggar : Said Rega Syahringga. PLS.”Semenanjung” telah pula melaksanakan pagelaran Teater Bangsawan “Batang Tuaka” , tari melayu, baca sajak, dan nyanyi di beberapa tempat di Jakarta. malah ikut ambil bagian dalam lomba lagu Melayu di TVRI pusat. Tahun 2012 di Pagelarkan pula Teater Bangsawan dengan judul “Lancang Kuning” naskah Temul Amsal yang disutradarai Asrizal Nur. Pagelaran ini telah di lakukan di Jogjakarta dan Pekanbaru pada bulan Februari 2012 yang lalu, selanjutnya  akan dilaksanakan pula di beberapa tempat di Jakarta.

          Pergelaran Teater Bangsawan dengan Naskah “Lancang Kuning” ini dimaksudkan dengan tujuan, memperkenalkan Bumi Lancang Kuning ke forum nasional. Setelah itu rencananya akan melang-lang buana ke Australia.

Semangat anak muda yang berasal dari berbagai kabupaten di Riau yang melanjutkan studinya di berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan bergabung dalam Sanggar PLS “Semenanjung” tersebut patut diacungkan jempol. Karena kreatifitas berkesenian mereka merupakan suatu upaya memperkaya khasanah kesenian nasional dengan memasukkan Teater Bangsawan salah satu cabang kesenian Riau yang selama ini mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang Riau sendiri, malah dianggap sebagai suatu cabang kesenian usang yang tak ada nilainya sama sekali. 
 
Sebenarnya Sanggar PLS “Semenanjung” juga melakukan kegiatan beberapa jenis cabang kesenian lainnya, seperti : Tari, musik, seni suara dan seni sastra, namun dalam hal ini yang saya bahas khusus seni peran, yaitu Teater Bangsawan, dikarenakan dari cabang-cabang kesenian lainnya Teater Bangsawan saya anggap merupakan sosok yang mewarnai kehidupan sanggar tersebut.

          Disamping itu, karena PLS “Semenanjung” ini hanya dikelola oleh kalangan mahasiswa Riau yang melanjutkan studinya di Jakarta, yang apabila tidak mendapat dukungan sepenuhnya oleh pemerintah provinsi Riau, DPRD Riau, Dewan Kesenian Riau dan pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini, dikhawatirkan lambat laun PLS “Semenanjung” yang mengharumkan nama negeri ini di kancah nasional tersebut, lama kelamaan akan meredup dan akhirnya menghilang begitu saja.
         

         
-------------

Rabu, 21 Maret 2012

Pengukuhan " LAM " Riau 21-3-1912







“ ADAT YANG TAK LAPUK DIK HUJAN “

Etika/Sopan Santun Yang  Perlu Dipertahankan


Oleh : Temul Amsal

        -----------------------------------------------------------------------------------
        Kita semua tentu sering mendengar sebuah ungkapan “Tak lapuk dik hujan, tak lekakng dik panas”.  Kata-kata ini bukan hanya sebuah sajak rekaan seorang seniman picisan. Bukan pula sebuah kata mutiara, ungkapan cengeng sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara.  Ungkapan diatas telah lahir jauh sebelum sejarah Melayu yang di tulis oleh Tun Sri Lanang tahun 1535 H (Slamet Mulyono).  Ungkapan tersebut mencerminkan betapa kuatnya orang Melayu mempertahankan adatnya. Malah dalam ungkapan lain disebutkan “ biar mati anak asal jangan mati adat’.

        Berbicara tentang Adat, kita tak bisa lari dari mengulas tentang sikap dan prilaku manusia. Namun banyak saja orang keliru dan salah mengartikan kata ‘adat’. tersebut. Kebanyakan orang, apalagi generasi muda sekarang, beranggapan bahwa adat itu  merupakan kebiasaan lama dan kuno. Tatkala mendengar perkataan ‘adat’ , yang terbayang di benak mereka adalah, orang tua-tua yang berpakaian  daerah atau rumah ciri khas Melayu . Jadi tak heran kalau kita sering mendengar perkataan  pakaian adat atau rumah adat. Banyak pula yang mereka-reka sendiri bahwa adat itu adalah  ‘tradisi’. masyarakat di suatu daerah. Padahal semua ini merupakan suatu kekeliruan yang lambat laun akan dapat menyesatkan dan melencengkan kata ‘adat’ tersebut dari arti  sebenarnya.

 Foto Lembaga Adat Tempo Dulu

        Adat merupakan ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia dalam segala aspek kehidupan lingkungannya, karenanya adat merupakan sumber hukum yang tidak tertulis. Sebelum bangsa kita mengenal hukum  (Barat), adat inilah yang dijadikan sumber hukum dalam masyarakat kita.  Sumber hukum ini begitu dipercayai dan disetujui oleh semua golongan masyarakat di suatu lingkungan tertentu dikarenakan sifatnya yang amat komunikatif. Dengan melihat sikap dan prilaku seseorang saja, (tanpa membaca buku yang tebalnya beratus-ratus halaman)  orang sekitarnya sudah dapat menilai bahwa orang tersebut melanggar adat atau tidak.

        Norma-norma  yang berlaku dalam masyarakat di suatu daerah, merupakan suatu kekuatan hukum yang mengikat. Norma-norma tersebut terdiri dari : cara (usage), kebiasaan (folkways), tata laku (mores). Masing-masing pengertian tersebut menunjukkan adanya norma kemasyarakatan yang harus dipedomani oleh seseorang atau sekelompok orang dalam bertingkah laku.  Hal inilah yang seharusnya dijadikan patokan oleh  ‘kita’ selaku masyarakat, khususnya masyarakat Melayu Riau yang berada dalam lingkungan adat yang sama- sama kita hormati.


Adat dan Kebudayaan

        Berbicara tentang adat, kita tak bisa tidak mesti berbicara tentang kebudayaan. Kebudayaan merupakan system nilai dan gagasan yang menjadi pedoman bagi pola tingkah laku manusia. Nilai-nilai yang baik ataupun yang buruk. Nilai apa yang diharapkan atau yang dapat memotivasi masyarakat menuju arah kebaikan.

            Saya memang tidak ingin mengomentari panjang lebar dalam hal ini, kecuali salah satu unsur yang amat mendasar dari kebudayaan kita yaitu ‘etika dan sopan santun’.  Khususnya lagi 'sopan santun dalam berpakaian dalam suatu upacara'. Menambah, mengurangi ataupun mereka-reka sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan, merupakan suatu pelanggaran yang seharusnya tak boleh terjadi. Apalagi seandainya pelanggaran itu dilakukan oleh sekelompok orang-orang yang berada dilingkungan Lembaga  Adat itu sendiri.


  
"Pawai Adat Riau" dalam festival Kraton Surakarta


Suatu Pembaharuan Yang Mengambang

        Etika dan sopan santun sebagai salah satu unsur kebudayaan (adat)  amatlah berpengaruh dalam tatakrama masyarakat Melayu, khususnya masyarakat Melayu Riau. Seseorang yang bertindak sembrono dalam hal ini selalu menjadi cemooh, malah dikatakan ‘orang tak beradat’. Salah satu contoh : Sikap hormat kepada pemimpin, berbeda dengan tatakrama menghormati orangtua atau teman sebaya. Etika dan sopan santun ini dapat juga dilihat dari tata busana yang mereka pakai.  Simbol-simbol  tata busana seseorang amat berpengaruh dalam memberikan gambaran tentang dirinya seperti : tingkat umur, kepribadian, status social  dalam masyarakatnya dan lain lain. 

              Orang Melayu “zaman dahulu” . tak terlalu bersusah payah  untuk mengetahui status seseorang. Dengan melihat penampilan orang tersebut dengan tata busananya, mereka  langsung mengetahui kronologi orang tersebut. Penilaian itu dilakukan dengan cara melihat symbol-simbol yang terdapat pada tata busana yang di kenakannya serta pola bertingkah laku orang tersebut  terhadap orang lain yang berada disekitarnya.

               Sayangnya sekarang hal tersebut sudah amat sulit kita ditemui, contohnya saja pada Upacara Pengukuhan Lembaga Adat Melayu Riau yang dilaksanakan pada hari Rabu 21 Maret 2012 yang lalu.

Sulitnya kita untuk membedakan yang mana Dewan Kehormatan Adat,  yang mana  Ketua Majelis Kerapatan Adat, yang mana Ketua Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat dan yang mana anggotanya. Hal ini dikarenakan tiap-tiap orang yang berada di sana semuanya berpakaian sama  (berwarna hitam) tanpa symbol-simbol yang dapat memberikan perbedaan antara pucuk pimpinan dan anggota.

Antara siapa yang dilantik  dalam Pengukuhan itu tak jelas. Kecuali Gubernur Riau (gelar Datuk Setia Amanah) punya symbol yang berbeda. Sedangkan Tenas Effendi (Ketua Majelis Kerapatan Adat) dan Al Azhar (Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian), hanya di pasangkan sebuah tanjak dan selempang hijau dengan les kuning.  Pada hal di belakang mereka, sebelah kanan, sudah dari semula duduk beberapa anak muda persis dengan seragam, tanjak dan selempang yang sama.

Beberapa anak muda penghantar baki (berisikan tanjak dan selempang) kepada Datuk Setia Amanah, untuk dipasangkan kepada  Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat dan Ketua Umum Dewan Pmpinan Harian.  Tanjak dan selempangnya jauh lebih bagus dari tanjak ‘lambang kebesaran’ yang berada di dalam baki.

Pengaturan tempat duduk tamu yang diundang kurang teratur.  Kita mengetahui tamu hanya ketika suasana pengukuhan dimulai. Karena para tamu tetap duduk saat hadirin yang dikukuhkan berdiri. Padahal seharusnya tamu undangan disediakan tempat ‘terhormat’ , bukan ditengah-tengan  anggota yang akan dikukuhkan.

Selain itu sulit diketahui mana yang tua, yang patut dihormati dan mana yang muda. Karena mereka tak pernah memperhatikan panjang kain sampingnya. Kebanyakan diantara wanita dengan sembrono meletakkan kepala kainnya di depan, dengan maksud menampilkan bunga-bunga indah. Padahal kepala kain di depan melambangkan ‘keperawanan’. Ada yang menyisipkan keris terbalik, ada pula beberapa orang yang berusia lanjut mengenakan simbol-simbol (anak yang akan melaksanakan sunat rasul) yang memang tak pantas buat mereka.

Hampir 90 persen dari mereka yang hadir disana memakai songket, sebagian mengenakan tenun siak. Seharusnya untuk upacara ini mereka hanya diperkenankan memakai kain pelekat.


        Peristiwa ini bagi sebuah prosesi adat, saya anggap sangat memalukan. Kalaulah seandainya ‘tanjak’ dan ‘selempang’ kita dijadikan sebuah ukuran symbol kebesaran buat seorang Pimpinan Tertinggi di Lembaga adat, mengapa pembaca syair dan pembawa baki juga diperkenankan menggunakan symbol-symbol serupa, mereka kan ‘masyarakat biasa’.  Dimana letak ungkapan : yang kecil disebut nama, yang besar dihimbau gelar.  yang penghulu didahulukan, yang tua dituakan. Perlakuan seperti ini apa tidak mencemari adat.  Padahal setahu saya, kita Orang Melayu amat kuat sekali mempertahankan ini. Salah cara mengikat kain saja sudah merupakan kesalahan fatal apalagi dengan sengaja memakai busana yang tidak pada tempatnya.

        Saya berharap agar ini pada masa-masa selanjutnya dapat menjadi perhatian sepenuhnya bagi kita semua. Jangan sampai kita diistilahkan dengan kata  ‘adat yang tak beradat’.


----------------

Minggu, 26 Februari 2012

MASJID KERAJAAN PELALAWAN




   OPINI   Riau Pos    Sabtu, 8 Mei 2010
      


MELUKIS SEJARAH, MENGIKIS KENANGAN
(Sekelumit Catatan tentang Masjid Hibbah Pelalawan)

Oleh Temul Amsal
 Masjid Hibbah (Masjid peninggalan Kerajaan Pelalawan)


          Semaraknya pembangunan Masjid yang megah akhir-akhir ini, dilengkapi relief, kaligrafi  dengan qubah mengkilap, berbahan keramik dan forselin. Kecanggihan bahan bangunan dan kejelian para arsitektor moderen tersebut memang mengagumkan dan menggugah perhatian banyak orang, tak kira bagi mereka yang tinggal di desa atau di kota. Akibatnya banyak masjid-masjid tua yang dirobohkan, kemudian diganti dengan bangunan bergaya baru tersebut. Hal ini tentu amat mengembirakan kita semua, terutama yang beragama Islam.

Tapi bagaimana apabila yang dirobohkan itu adalah sebuah masjid bersejarah yang sudah resmi tercatat sebagai situs budaya nasional. Salah satu diantaranya adalah Masjid Hibbah Pelalawan. Masjid yang masih utuh dan bernuansa sejarah ini, bukan dilindungi, tetapi oleh sebagian oknum masyarakat setempat buru-buru meruntuhkannya untuk dibangun kembali dengan dalih supaya kelihatan lebih cantik dan megah dipandang mata.

Masjid Hibbah Pelalawan dibangun tahun 1936, semasa pemerintahan Marhum Budiman (Tengku Said Osman bin Tengku Said Ubaidillah) Regant Kerajaan Pelalawan (1930 – 1941).

            Pembangunan Masjid tersebut berdasarkan musyawarah antara orang-orang besar kerajaan, para pemuka masyarakat dan alim ulama yang ada di Pelalawan pada waktu itu. Lokasi Masjid di tetapkan di pinggir sungai 'Naga Belingkar', mengingat tempat tersebut tak jauh dari bangunan Istana Pelalawan dan Rumah kediaman Sultan. Sungai Naga Belingkar merupakan anak sungai yang menghubungkan antara sungai Rasau dan sungai Kampar. Penduduk Pelalawan pada waktu itu sebagian besar masih bermukin di sepanjang pinggiran sungai rasau, sebagaian lagi sudah pindah ke pinggiran sungai Kampar. Lokasi masjid ini berada di tengah-tengah , yang mudah ditempuh dari segala pemukiman, baik dengan berjalan kaki maupun dengan menggunakan perahu.

            Karena lokasi tersebut merupakan dataran rendah, maka mau tidak mau harus ditimbun. Atas kesepakatan bersama dengan penuh keikhlasan masyarakat pelalawan waktu itu bergotong royong, tanpa terkecuali tua dan muda, laki-laki dan perempuan. Pekerjaan tersebut dilaksanakan siang dan malam tanpa paksaan. Malah Sultan dan para pembesar kerajaanpun ikut bekerja bersama rakyatnya.

            Sebahagian besar bahan bangunannya terbuat dari  ‘teras laut’, kayu pilihan yang sengaja dipesan, sebagian lagi diramu oleh pemuda-pemuda di kawasan hutan yang terletak diseberang sungai kampar. Sedangkan semen untuk tiang, kaca pintu, atap dan timah campuran bahan qubahnya merupakan sumbangan Sultan.


Masjid ini terletak di atas tanah seluas 30 X 31 meter. Bangunan ini terdiri tiga buah, bangunan pertama disebelah timur adalah gerbang menara azan, berupa pintu masuk yang bagian atasnya digunakan tempat mengumandangkan azan, luas bangunan ini 3,60 X 3,45 X 10 meter. Ditengah-tengah adalah bangunan induk, yakni ruang shalat, berukuran 12,40 X 12,40 meter (bangunan persegi empat yang melambangkan ka'bah). Sebelah timur, miqrab (bangunan tempat Imam dan mimbar) berukuran 3 X 3 meter, menyatu dengan bangunan utama. Masjid Hibbah memiliki dua belas pintu. Empat  sebelah utara, empat sebelah selatan dan empat pintu di bagian depan yang menghadap ke timur. Lebar beranda kiri, kanan dan bagian depan 2,50 meter, dengan pagar beranda setinggi 80 cm.

            Kata-kata “ HIBBAH “ untuk nama masjid tersebut diambil dari makna ‘pemberian (sumbangan) yang ikhlas atau pengorbanan tenaga sukarela dari seluruh lapisan masyarakat dalam mendirikan rumah ibadah ‘ tersebut. Masjid Hibbah Pelalawan ini nuansa tersendiri sebagai lambang kekerabatan masyarakatnya lambang kegotongroyongan, rasa seia sekata yang terjalin antara masyarakat, Kepala adat, Alim Ulama, para pembesar kerajaan dan sultannya sendiri, selaku puncak pimpinan tertinggi kerajaan.

            Masjid Hibbah bagaikan mahkota yang amat terpelihara, melebihi bangunan Istana Sultan Pelalawan. Masing-masing pribadi merasakan Masjid yang mereka bangun secara bersama-sama itu adalah 'mutiara berharga' milik mereka, karenanya mereka senantiasa merasa tentram untuk senantiasa berada di dalamnya, di situ mereka bertemu dengan Tuhannya Allah SWT yang bakal mengabulkan doa mereka . Wallahu Alam.



Menghapus Catatan Lama

            Situs budaya merupakan suatu bukti yang dapat memberikan gambaran nyata tentang perkembangan budi dan dayamasyarakat di masa lalu. Meneliti situs Budaya, bermakna menelusuri masa silam, mencungkil nilai-nilai budaya yang sekian lama terpendam. Dari situlah akan dapat kita lihat betapa besarnya Melayu itu. Betapa besarnya penghargaan Sultan Kerajaan Melayu tempo dulu (khususnya Sultan Pelalawan) terhadap agama Islam yang dianutnya. Bagaimana lemah lembutnya budi pekerti seorang pemimpin, disamping penyumbang dana dia juga ikut bekerja mengucur keringat bersama-sama dengan masyarakatnya dalam membangun sebuah masjid. Masjid Hibbah merupakan lambang persatuan dan kesatuan  masyarakat  'Melayu'. 

           Masjid Hibbah adalah bukti sejarah ketaatan masyarakat Pelalawan dalam menjalankan syariat Islam sejak zaman dahulu,  yang seharusnya tetap dijunjung tinggi oleh kita generasi sekarang. Masjid yang dibangun bersama-sama dengan tetesan keringat masyarakat waktu itu, secara bersama-sama pula kita pelihara dan kita renofasi. Meruntuhkannya, kemudian membangunnya kembali di tempat yang sama dengan modal perorangan atau modal kelompok, merupakan suatu kesombongan yang amat tak terpuji.

Meruntuhkan sebuah situs budaya, berarti mengikis segala kenangan yang terkandung di dalamnya. Merobohkan sebuah bangunan bersejarah, sama halnya dengan sengaja menghapus sebuah catatan lama, mengaburkan bahkan menghilangkan bukti-bukti nyata yang dapat dijadikan fakta.


Beberapa hari yang lalu ketika saya ke Pelalawan dengan maksud melatih teater di sanggar yang baru didirikan di sana, saat melalui bangunan Masjid Hibbah, tiba-tiba saya terharu melihat sebuah pahat besar yang dipalu ke tapak menara Masjid yang telah porak poranda itu. Azhari Rahman (seorang teman saya asal Pelalawan dari Dinas Pariwisata) bergulir air matanya. Dengan suara lirih ia berkata “Masjid Kebanggaan kita telah tumbang.  Kalau mau membangun Masjid Baru yang megah, mengapa tak di lokasi lain saja”. Katanya sambil memuji kebesaran Tuhan. Betul juga, padahal di Pelalawan saat ini, tanah kosong masih terbentang seluas mata memandang.

Terus terang saya sangat menyesalkan kecerobohan sikap orang perorangan, atau sebagian orang 'panitia' (yang diciptakan sendiri) dengan sengaja merobohkan Masjid Hibbah yang bangunannya masih utuh tersebut. Padahal tahun lalu saya ditunjuk langsung oleh Tengku Kasrun yang menjabat Sekretaris Daerah  waktu itu, untuk memasukkan data Masjid Hibbah ke Panitia Pembuatan Buku Masjid-Masjid bersejarah di Indinesia, di Istana Negara. Buku-buku tersebut diperuntukkan bagi tamu-tamu Negara yang berkunjung ke sana. Dan beberapa bulan lalu, saya juga memasukkan data Masjid Hibbah untuk pembuatan film masjid bersejarah di Indonesia yang dipelopori oleh Kristin Hakim.


bangunan  yg diruntuhkan datar dgn tanah

Pembangunan dan perluasan sebuah masjid bisa saja dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan pertambahan jumlah penduduk di suatu tempat, tapi apa tidak mungkin jika pembangunan itu di buat di lokasi yang berbeda, tanpa merusak bangunan lama yang masih utuh, apalagi bangunan itu mengandung nilai sejarah masa lampau .

Suatu contoh, (terlepas dari kekejaman yang bernilai HAM atau tidak) mengapa raja-raja dahulu ada yang membangun Masjid dengan istilah ‘qubah siap tukang dibunuh’. Itu dikarenakan agar suatu bangunan tersebut, tidak dapat ditiru....tidak akan pernah serupa dengan bangunan yang ada di tempat lain. Maksudnya masing-masing bangunan mempunyai ciri khas tersendiri. sehingga antara bangunan satu dan lainnya memiliki nuansa yang berbeda pula.

Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budidaya masyarakat Indonesia seutuhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan didaerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa yang tidak boleh dihilangkan dan dimusnahkan begitu saja. Saya khawatir kalaulah suatu saat sebagian orang-orang hanya memikirkan dan ingin memperbaharui sejarah yang terdapat disekitarnya agar tampak lebih mengedepan. Sehingga dengan begitu mereka semena-mena meruntuhkan, merobohkan ataupun memusnahkan berbagai bangunan ataupun perkakas lama yang mengandung sejarah dan menggantinya dalam bentuk baru. Pada suatu saat nanti, yang kita nikmati hanyalah suatu “dunia pantasi” dengan maksud untuk sekedar bersaing dengan daerah lain, mendapatkan nilai lebih dan sanjungan dari pengunjung yang menyaksikannya. Amat menyedihkan memang.


                                                                         Penulis Seniman dan Budayawan Riau


Jumat, 24 Februari 2012

Istana Pelalawan Dilalap Api


SEJARAH KAMI 
TINGGAL DONGENG MENJELANG TIDUR

 oleh : Temul Amsal pada 20 Februari 2012 pukul 6:56





" Istana Sayap" Istana Raja Pelalawan yg baru direhab

           Setelah Saya terharu menyaksikan dengan mata kepala sendiri Masjid Hibbah Peninggalan Kerajaan Pelalawan  yang bernilai sejarah itu, sengaja diratakan dengan tanah oleh sekelompok orang yang menggabungkan dirinya dalam satu kepanitiaan dengan dalih mau merenofasi masjid tua tersebut, pada bulan April 2010. Hampir setahun kemudian di bekas bangunan masjid peninggalan peninggalan leluhur itu, dibangun kembali sebuah masjid baru menelan biaya miliyaran.rupiah, dengan  ukuran dan menghadap kearah yang sama. (padahal sebelimnya mereka beralasan bahwa ukuran masjid lama terlalu kecil, lagi pula tidak tepat mengarah ke Ka'bah). Sebahagian lagi mengatakan:, "untuk pembaharuan agar tak ketinggalan zaman". Benarkan demikian ? padahal kalau sekedar untuk membangun masjid yang baru, tanah disana masih banyak yang kosong. 

                   Amat disayangkan lagi, sebuah mimbar bersejarah yang masih utuh di dalam masjid tua itu (yang umurnya jauh lebih tua dari bangunan Masjid Hibbah), juga mereka singkirkan dan diganti dengan sebuah mimbar buatan baru yang tak punya nilai historus sedikitpun.  


Makam Tengku Said Abdurrahman Assaggaf (Marhum Kota)
wafat hari Jumat 18 Jumadul Akhir 1238 H (batu nisannya terbuat dari tembaga)

               Setelah itu Bangunan Qubah Makam Raja-Raja Pelalawan runtuh, karena dibiarkan terlantar tanpa pengurusan, disamping bangunan awalnyapun kurang begitu kokoh dan tidak menggunakan bahan bangunan yang bermutu.

                  Hal ini secara langsung ataupun tidak, tentulah memperlihatkan keangkuhan dan keserakahan para pejabat yang berwenang di sana. Pembangunan masa lalu yang tercatat dalam situs sejarah kebudayaan itu tampak sengaja di abaikan, sebaliknya pembangunan masa sekarangpun ternyata masih jauh  dari jangkauan. Perlakuan  tidak terpuji semacam ini tentu amat disesalkan.

Istana Pelalawan dipinggir sei.Kampar

                 Kini Bangunan Megah Istana Pelalawan pula yang dilalap si jago merah. Bangunan Istana ini sejak semula memang bermasalah. Sejak Istana tersebut di bangun kembali beberapa tahun yang lalu, bocor telah terjadi di sana sini dan tak pernah diperbaiki. Selesai peresmiannyapun, bangunan tersebut tampak kuyu tak bermaya, seperti tak terurus, dan memang tak pernah di urus, sampai akhirnya bangunan tersebut dilalap api,  musnah jadi arang jelaga yang tak berharga. Beberapa benda-benda bersejarah yang terdapat di dalamnya ikut raib tak bersisa. Wallahualam..
api melahap habis bangunan istana

                Hancur luluh semua harta kekayaan negeri ini ditangan anak bangsanya sendiri. Musnah sudah segala kenangan. Hancur luluh semua warisan. Kerajaan Pelalawan yang pernah jaya pada zamannya itu luluh lantak di sepak terjang ketamakan, kejahilan, kebiadaban yang berlabelkan pembangunan.Tak ada lagi yang tersisa, kecuali sedikit uang jajan yang tersembunyi dari hasil kelicikan.

Sejarah kami, kini jadi dongeng menjelang tidur.....Jadi nyanyian para ibu sambil mengayun buaian di kesunyian malam.yang berbekas dalam ingatan..........( 19.02.2012 ).



Rabu, 22 Februari 2012

TEATER BANGSAWAN


Pagelaran Teater Bangsawan 
"KERIS MENJADI SAKSI" 
 Salah Satu Usaha Memperkenalkan Seni Budaya Melayu Riau ke Mancanegara

Catatan : Temul Amsal