PERGELARAN TEATER
SEKITAR BANDAR SERAI
PEKANBARU
KEHILANGAN SOSOKNYA
KEHILANGAN SOSOKNYA
Anjungan Seni Idrus Tintin
Saya
sangat bergembira, ketika dua orang rekan mengajak saya nonton pergelaran
teater di Bandar Serai Pekanbaru pada tanggal
10 Nopember 2012 yang lalu. Pergelaran tersebut diisi oleh lebih kurang
14 Sanggar Teater dalam rangka menyemarakkan Hari Teater Moderen Riau. Kemudian
dilanjutkan dengan diskusi tentang perkembangan teater di daerah ini.
Sebagai
seorang pencinta Seni Teater, saya sudah dapat membayangkan, betapa megahnya
upacara yang dimeriahkan dengan pergelaran dari sekian banyak grup. Cuman suatu
pertanyaan timbul di benak saya, apakah 14 sanggar teater tersebut bisa habis
tampil dalam satu malam. Sedangkan menurut pengalaman waktu saya sering jadi
juri Pertunjukan Rakyat di Departemen Penerangan dulu, paling banyak dalam satu
malam hanya dapat ditampilkan tiga pergelaran saja. Mengingat satu pergelaran
yang paling minim untuk sebuah pementatasan diperlukan waktu 30 menit, tambah
10 menit guna pengaturan setting, untuk satu pertunjukan teater konfensional.
Macam
mana dengan teater modern yang pagelarannya penuh dengan teaterikal dan
kecanggihan tekhnologi saat ini, disamping naskah, sutradara dan para pemain
sebagai aktor, rias wajah, tata panggung dan tata lampu mempunya keunikan pula
dengan nuansa seni tersendiri dalam mendukung pergelara tersebut. Kalau ini
diabaikan, berarti kita kembali lagi berpijak dari dasar semula, seperti di
tahun 60-an.
Betapa
tersentuh dan terenyuhnya hati saya, saat saya Kazzaini KS, Mosthamir Thalib (ketua
dan wkl ketua DKR) dan Tengku Ubaidillah.(tokoh Drama Klasik Riau) sampai di
tempat pergelaran.
Ternyata
pergelaran teater modern dalam rangka memeriahkan Hari Teater Modern Riau 10
Nopember tersebut dilaksanakan di pelataran halaman Anjungan Seni Idrus Tintin.
Diatas tanah, tanpa pentas, dengan hanya diterangi lampu jalan. Layaknya
seperti layaknya menonton sebuah pertunjukan randai di tahun 80-an. Waktu
pergelaran satu sanggar tak lebih dari 10 sampai lima belas menit.
Inikah
‘Teater Modern’ itu…? Tanya Kazzaini Ketua Dewan Kesenian yang berdekatan
dengan saya. Saya juga bingung jadinya… Terus terang saya tak dapat menjawab
pertanyaan salah seorang rekan saya. Sebab menurut pengalaman saya, bentuk
pergelaran macam itu adalah pergelaran teater tradisional zaman dulu. Tapi
kalau ini juga mau dikatakan ‘teater modern’, saya juga tak tahu, karena saya
bukanlah seorang pakar dibidang ilmu teater, dan saya tidak punya ijazah
sekolah teater. Bagi saya teater hanya kegemaran sejak kecil sampai saat ini. Berbeda
sekali dengan kebanyakkan dari mereka yang sedang melakukan pergelaran
tersebut, sebab mereka
adalah mahasiswa “Sekolah Tinggi Kesenian Riau” jurusan teater yang punya pengetahuan luas tentunya. Disamping itu amat disayangkan kalau pergelaran dalam rangka Pencanangan Hari Teater Modern Riau dilakukan di halaman, dengan peralatan seadanya, padahal di belakang mereka tersergam sebuah Gedung teater yang serba modern (katanya bertaraf internasional) yang biayanya pembangunannya puluhan miliar rupiah.
Herannya saya, sewaktu diskusi
dilaksanakan selepas pergelaran tersebut, masing2 dengan penuh kebanggaan
mengeluarkan pendapat, bahwa merekalah pewaris dan penerus perkembangan ‘teater
modern di Riau’ yang bakal memberikan warna baru di kancah perteateran 'Indonesia'
(baca : Raiau Pos.co “ Hari Teater Modern Riau dideklarasi kan”).
Sebagai seorang pencinta teater, saya merasa kecewa
dengan pergelaran teater yang akhir-akhir ini saya saksikan di Bandar Serai Pekanbaru (
baik di Anjungan Seni Idrus Tintin maupun di Laman Bujang Mat Syamsudin.) Terus
terang saya katakana, beberapa bulan terakhir saya belum pernah menyaksikan pergelaran teater (baik
teater modern, konvensional atau tradisional) dengan tata cara / pola yang
sebenarnya. Yang selalu saya lihat hanyalah pergelaran sejenis ‘eksprimen’,
‘monolog’ dan pergelaran ‘ala teater tradisional’ itu tadi. Malah pada malam
tanggal 12 Nopember lalu, setelah membaca sajak dengan teman2 wartawan, saya juga nonton sebuah pergelaran “Visual Puisi” yang
dipergelarkan oleh mahasiswa jurusan teater. Sekolah Tinggi Kesenian Riau
tersebut di gerbang pintu masuk Bandar Serai
Pekanbaru….Nyatanya yang saya lihat hanyalah suatu lakon fragment, tanpa
setting pentas yang memadai.
Sebaiknya, sebagai pekerja teater yang belum
profesional, mereka mau bertimbang rasa dengan mementaskan karya-karya penulis
naskah yang sudah mapan terlebih dahulu, sementara mereka terus berusaha mendalami dramaturgi,
pola-pola teater yang sudah ada dan mempelajari bagaimana tata-cara penulisan
naskah drama yang baik.
Bagi insan
teater, terutama bagi mereka yang bakal menjadi pemegang estapet pengembangan
kehidupan teater di Riau, saya sangat berharap agar pengertian 'teater modern'
jangan dipersempit. terfocus berdasar teori yang hanya didapat di buku petunjuk
dan mata kuliah saja. Kalau hanya sekedar :
- pengadaan naskah
- pengadaan naskah
-
penyutradaraan
-
penceritaan keadaan yang berkembang saat ini
-
dan tata busana zaman sekarang
Teater-teater daerah (teater konvensional) seperti Dul Muluk, Teater Bangsawan, Mendu dll, sudah sejak tahun 60-an melakukan hal yang sama.
batang gaharu
diatas gunung
usah dipepat
dibuat sampan
kalau baru
mula berdayung
jangan nak
cepat sampai ketujuan
Selamat berkereatifitas…..!!!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar