SENI
PERTUNJUKAN SASTRA VISUAL PUISI
IBRAHIM SATTAH
Puncak
kejayaan Seni Pertunjukan (baca teater)
di Riau berkisar sekitar tahun 80-an.
Pergerakan ini diawali dengan tumbuhnya secara beruntun grup-grup teater
di daerah yang dimotivasi oleh Departemen Penerangan RI, yang melaksanakan
Lomba Pertunjukkan Rakyat sejak dari kecamatan, kabupaten, provinsi sampai
berakhir di tingkat nasional setiap tahunnya. Kemudian lahirnya ‘Praktikum
Sastra’ Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fkip Unri yang dipromotori
oleh Syafruddin Saleh.Sai Gergaji; Al-Azhar; Temul Amsal; Dasri Al-mubari
dengan ketua Program tudinya Dra.Saidat Dahlan pada tanggal 4 Februari 1980.
Kembalinya Ediruslan Pe Amanriza ke Pekanbaru, setelah sekian lama bermukim di
kota Padang. Semaraknya kegiatan kesenian di ‘Gedung Serbaguna, Pusat Olah Seni
Taman Budaya Pekanbaru pimpinan OK.Nizami Jamil, ditambah lagi dengan sanggar2
teater ada di Ibukota Propinsi ini antara lain : Sanggar teater “BAHANA” (Idrus
Tintin), teater “GEMA” (Temul Amsal); Sanggar teater BTB (Ibrahim Sattah) ;
Sanggar teater “Depdikbud Kodya” (M.Rasul) ; Sanggar teater “DANDAN LAKSEMANA”
(Rusli Not) : Teater “BIANGLALA” (T. Ubaidillah) ; Teater “OBOR” (Fakhraini
MA.Jabbar). BINA TEATER BANGKIT (Dasri Al-Mubari) ; Sanggar teater “LOPAK” (Tyas.AG)
Teater IAIN SUSQA (Ayatullah Aris Abeba) dan banyak lagi yang saya tak ingat
lagi namanya.
Seperti
kata yang diucapkan Seniman Indonesia Leon Agusta ketika menyampaikan
ceramahnya di depan peserta lomba Festival Teater Remaja 27 Januari 1984 di Pekanbaru,
: “Membangkitkan kembali kegagahan
teater di Riau, haruslah lahir dari desa-desa, dari sudut-sudut keterpencilan
Riau. Sementara Pekanbaru hanya cocok untuk pesta dan mabuk-mabuk”, (Genta,
Minggu IV, Januari 1984), Beliau juga mengemukakan bahwa teater di Riau mencul
gagah dengan kemurniannya, semantara kebanyakan teater di kota-kota besar
seperti Jakarta berlomba-lomba menjadi modern, lebih modern dan sebagainya
tanpa menempah kemodernan baik-baik.
Dalam
kancah pergolakan teater di Riau inilah, di Pekanbaru, Ibrahim Sattah
melahirkan sebuah bentuk pementasan yang lain dari bentuk biasa. Pementasan itu
diberinya nama “VISUAL PUISI”.
Kalau
begitu apa itu “VISUAL PUISI”….? Dan
bagai mana pula bentuk serta tata-cara pementasannya….? Untuk menjawabnya tentu
Saya juga terpaksa kembali berbalik kebelakang. Meninjau lagi perkataan Ibrahim
Sattah sekitar tahun 80-an, dalam salah satu diskusi sastra di Aula Universitas
Islam Riau di jalan M.Yamin (dekat pasar Senapelan sekarang) yang waktu itu
dihadiri oleh banyak seniman diantaranya : Saya, Syafrudin Saleh Sai.Gergaji,
Fakhrunas MA.Jabbar, Al Azhar dan Bang Rida Kaliamsi. Banyak diantara yang
hadir, meminta penjelasan kepada Ibrahim Sattah tentang sajak-sajak beliau yang
amat sulit dimengerti oleh pembaca maupun pendengarnya. Saya masih ingat,
dengan senyum beliau menjawab , “Kalau sajak-sajak saya dapat diartikan
sebagaimana prosa, lebih baik saya berpidato saja”.
Agaknya
tinjauan saya tentang jawaban Ibrahim Sattah terhadap sajak-sajaknya di atas,
bisa dijadikan bahan perenungan guna menjawab pertanyaan tentang apa itu Visual
Puisi. Menurut hemat saya seandainya para penonton pertunjukan yang diberinya
nama Visual Puisi itu dengan mudah mampu menerjemahkan apa yang dilihatnya,
tentu Ibrahim akan menyutradarai anak-anak teaternya bermain drama saja. Tapi
buktinya kan tidak. Kemampuan Ibrahim dalam soal ini memang perlu diacungkan
jempol. Tanpa kita tahu ‘apa dan mengapa’, secara tiba-tiba kita terpukau oleh
penampilannya. Kita seolah-olah berada di dunia lain…heran, kagum dan
terperangah, sehingga tak sadarkan teman yang berada sama menonton di kiri
kanan kita. Dalam pementasannya dia
tidak banyak menggunakan property. Ketika
saya datang menghadiri sebuah pertunjukannya. Ketika layar di buka, yang saya
lihat hanyalah pentas kosong dengan
latar belakang layar hitam sebagaimana biasanya. Seseorang masuk
membacakan satu kata “pukau”
(mungkin itu judul sebuah sajak). Tapi alangkah terkejutnya saya ketika suara
itu menimbulkan gema dari segala arah, berbarengan dengan itu dari latar hitam di belakang pentas,
bermunculan berpuluh-puluh kepala lelaki dan perempuan sambil meneriakkan
beberapa baik sajak dengan kata-kata puitis. Sebelumnya peristiwa di pentas itu
tak pernah terbayangkan dalam benak saya. Ibrahim memang hebat.
Selain
Ibrahim, teater “BAHANA” juga sering menam pilkan Visual Puisi dalam berbagai
acara. “Praktikum Sastra” Program Studi Bahasa Indonesia Jurusan Bahasa dan
Seni FKIP UNRI malah setiap tahun melombakan pergelaran Visual Puisi untuk
Umum. Acara perlombaan ini tercatat di Leident – Belanda.
--------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar