Rabu, 22 Februari 2012

TEATER BANGSAWAN


Pagelaran Teater Bangsawan 
"KERIS MENJADI SAKSI" 
 Salah Satu Usaha Memperkenalkan Seni Budaya Melayu Riau ke Mancanegara

Catatan : Temul Amsal


foto bersama selepas pemantasan di Gedung Sapta Pesona - Jakarta


foto bersama selepas pemantasan di Gedung Sapta Pesona - Jakarta

            Mengangkat seni tradisi sebgagai upaya  melestarikan  budaya bangsa perlu dihargai dan disokong, terlebih upaya tersebut muncul dari Generasi Muda yang berdepan-depan dengan budaya hedonis, komsumtif yang rentan tercerabut dari akar budaya leluhurnya……Demikian sambutan HM.Lukman Edy  Ketua Umum Persatuan Masyarakat Riau Jakarta pada malam pagelaran  Road Show Sosialisasi Budaya Melayu Riau  (zapin, bahasa & sastra) di Gedung Sapta Pesona jl. Medan Merdeka Barat 17 Jakarta Pusat 21 Oktober 2010 yang lalu.

            Acara yang tampak megah ini diltukangi tak kurang dari 20 orang mahasiswa asal Riau dari berbagai Universitas – Perguruan Tinggi yang ada di Jakarta. Ditambah dengan delapan orang anggota Sanggar Tari  ‘Seri Gemilang’ Indragiri Hilir yang telah banyak melenggang lenggak ke luar Indonesia. Mereka semuanya gembira . Karena malam itu mereka akan dilepas oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.  Besoknya mereka berangkat menuju Brunei Darussalam, dan selanjutnya direncanakan ke Malaysia dan Singapura.

            Sekelompok anak muda asal Riau yang lagi asyik-asyiknya menimba ilmu pengetahuan di berbagai bidang ilmu di Ibukota tersebut dengan sengaja berusaha mengangkat ‘Teater Bangsawan’ sebagai upaya mereka memperkenalkan budaya Melayu Riau ke mancanegara, terutama Negara Tetangga sebagai ajang usaha kreativitas mereka untuk ikut menyukseskan program pembangunan Provinsi Riau yang sedang asyik bersolek diri  menuju ‘TERWUJUDNYA PROVINSI RIAU, SEBAGAI PUSAT PEREKONOMIAN DAN KEBUDAYAAN MELAYU, DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT YANG AGAMIS, SEJAHTERA LAHIR DAN BATIN DI ASIA TENGGARA’ TAHUN 2020.

Teater Bangsawan adalah salah satu pola teater konvesional yang hampir punah di Riau saat ini. Lakon Teater Bangsawan ini pada zamannya sekitar tahun 60-an lebih popular dengan nama Drama Klasik. Teater bangsawan sengaja diangkat kembali kepermukaan oleh sutradara Asrizal Nur dikarenakan bentuk lakon ini memiliki ciri khas Melayu Riau dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakatnya.


salah satu adegan dalam 'Keris Menjadi Saksi'

Teater Bangsawan punya keunikan tersendiri, karena bukan saja dalam pagelarannya ia melihat lebih dari seorang yang mempunyai latar belakang keahlian yang berbeda, tapi ia juga melibatkan sejumlah orang (pihak ketiga) sebagai penonton. Teater Bangsawan merupakan hasil karya kolektif yang hanya terujud karena adanya interaksi social yang terjadi antara Seniman dan Penonton. Teater Bangsawan dapat bertahan dikarenakan ia cukup komunikatif, memiliki nilai-nilai  keindahan yang masih berlaku dalam masyarakat Melayu itu sendiri (seperti peribahasa, filsafah, ungkapan-ungkapan dsbnya). Oleh karena itu jenis pagelaran ini merupakan arena social, dimana para Seniman dapat mengembangkan bakat dan kreativitasnya dalam usaha mengungkapkan rasa keindahan itu tadi, dilain pihak Teater Bangsawan ini merupakan atraksi kesenian yang dapat dinikmati penonton yang memerlukan hiburan sebagai media untuk memecahkan  monotonous kehidupan sehari – hari. Itu pulalah sampai saat ini  dimana tiupan topan kesenian modern sedang melanda dunia kesenian kita, namun tidak berhasil menggoyang Teater Bangsawan dari masyarakatnya.

            Pada Teater Bangsawan Kesenian itu komplet. Disinilah tempat berpadunya segala yang ada, seperti seni rupa, seni tari, musik, humor, seni sastra dan adat istiadat pun ada. Apalagi kalau cabang kesenian yang telah lengkap itu, ditata pula sedemikian rupa, diangkat kepermukaan, oleh tenaga-tenaga ahli, menggunakan peralatan tekhnologi multi media dengan segala kecanggihannya tentu ia akan menjadi tontonan yang mengagumkan ratusan, ribuan  bahkan jutaan pasang mata yang pasti menatapnya dengan penuh pesona.

Antusias para penonton "Keris Menjadi Saksi" dari Riau
 di Auditorium Radio & Televisen Brunei Darussalam

            Lakon yang dipagelarkan adalah “Keris Menjadi Saksi” naskah Temul Amsal yang disutradarai oleh Asrizal Nur. Lakon ini menceritakan pada masa dahulu, di sebuah kerajaan di Riau terjadi tragedi. Sultan Syah Alam dikhianati oleh Kiap, seorang Panglima kepercayaannya sendiri.  Setelah ia berhasil membunuh Sultan, Permaisuri dan anak anak sultan yang masih muda belia.  Panglima Kiap menobatkan dirinya sebagai Raja. Putra bungsu Sultan yang masih dalam ayunan disuruh bunuh pula pada Datuk Bendahara. Tapi sebaliknya Datuk Bendahara berhasil menyelamatkan putra mahkota, mereka dan beberapa pengikutnya yang masih setia melarikan diri kesebuah pulau dan menjadi bajak laut di sana. Tujuh belas tahun kemudian Putra Makhota dan orang-orang yang setia kepada Sultan Syah Alam datang menuntut bela.

            Lakon ini ditaja dalam gaya lama yang dipadukan dengan peralatan modern, sehingga tanpa disengaja dapat menghilangkan rasa jenuh. Saya berani berkata begitu karena tak kurang dari 300 orang yang menyaksikan pagelaran Lakon berbahasa Melayu Riau ini, sejak awal tetap bertahan di tempat duduk mereka masing-masing hingga pagelaran usai, termasuk diantaranya 12 orang Duta Besar dari 12 negara sahabat yang saya percaya mereka  tak tahu ber- Bahasa Melayu. Namun dengan wajah ceria mereka bertepuk tangan, berdiri mendekati pentas bersama Menteri Kebudayaan & Pariwisata, Gubernur Riau dan beberapa tokoh lainnya berfoto bersama para mahasiswa yang berperan dalam lakon tersebut.

Salah satu hiburan dalam pagelaran 'Keris Menjadi Saksi'

            “Keris Menjadi Saksi“, merupakan fenomena kehidupan orang Melayu Riau Tempo Dulu. Penuh dengan nilai-nilai budaya, filsafah hidup dan kehidupan. Syarat dengan pengajaran rahasia yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat penontonnya.
                       
            Saya percaya itu. Saya nyatakan tahniah kepada para mahasiswa asal Riau yang bergabung dalam ‘Pusat Latihan Teater Semenanjung Jakarta’ terutama para pendukung naskah ‘Keris Menjadi Saksi ‘ : (M.Damri, Said Rega Syahringga, Agustina, Deddy, Robithoh, Masitoh, Maria Darwis, M.Ashsubli, Afni, M.Rasyid, Supriadi,Azlin Arifin, M.Zukhri, Khairul Anwar, Ruddy, dan Farhan) yang dengan semangat berkobar-kobar (tanpa istirahat) setelah mentas di Gedung Sapta Pesona Jakarta. Bongkar dekor, mengemasi barang-barang, langsung tancap ke Bandara Soekarno Hatta. Pagi itu juga 22-10- 2010. Menjelang sholat Jumat, kami telah tiba di Bandar Seri Begawan Negara Brunei Darussalam.

            Lain di Jakarta, lain lagi di Brunei  Darussalam. Di Jakarta ibukota Negara kita, yang berani bicara berbahasa “Melayu Riau” di sana, mestilah bawa  penerjemahnya. Kalau di Bandar Seri Begawan, semua yang dekat jadi kawan. Bahasanya sama, masyarakatnya ramah. Awal perkenalan, anggota Teater Bangsawan dan pemain musik diberi jamuan makan siang. Sekitar pukul 11 siang Kami dibawa ke sebuah pemondokan, sejak itu kami terpisah dengan Sanggar Tari dan Pimpinan Team dari Dinas Kebudayaan & Pariwisata Riau, karena mereka menginap di salah satu Hotel berbintang. Selesai melaksanakan Sholat Jumat, setelah Istirahat sejenak Kami diajak mengunjungi Mesium Tekhnologi Melayu, sore harinya mendapat jamuan makan malam di salah satu Geray makanan di Bandar Seri Begawan.

Foto bersama di depan Mesium Tekhnologi Melayu Brunei Darussalam

            Malamnya rombongan di hantar ke studio (auditorium) Radio & Televisi Brunei untuk penyesuaian pentas dan menata set dekor, karena di tempat inilah pagelaran akan dilaksanakan besok. Memang di Brunei  kami banyak mendapat kemudahan. Atas kemurahan hati teman – teman di sana kami diberi arena pagelaran yang sangat menawan. Walaupun tanpa di dampingi pimpinan rombongan  Asrizal Nur (sang Sutradara) dan Saya (penulis naskah yang juga dibebani tugas sebagai penata artistic), Dody (penata video) dan Parulian (penata lampu), tetap saja mendampingi anak-anak agar semangat mereka tetap tumbuh berkembang tak patah di tengah jalan.

            Rupanya beban berat menghimpit kami malam itu, karena pada malam itu juga Set Dekor harus diselesaikan. Di sinilah Asrizal dan Saya jadi kalang kabut karena berada dinegeri orang: pertama tak tahu siatuasi dimana harus membeli peralatan yang dibutuhkan, kedua di Brunei Tak ada Taxi atau angkot, tak ada kendaraan roda dua, tambahan lagi tak seorangpun diantara kami yang sempat menukarkan Rupiah ke Ringgit Brunei. Untunglah akhirnya menjelang tengah malam masalah tersebut dapat dipecahkan atas bantuan teman-teman dari Balai Bahasa dan Pustaka .

            Beda Negara beda Undang-Undangnya, beda tempat berbeda pula adat resamnya. Menampilkan suatu karya seni di Brunei Darussalam kita mendapatkan fasilitas tempat yang menyenangkan, tapi segala tetek bengeknya harus disensor terlebih dahulu oleh pihak kerajaan. Menurut pengalaman kawan - kawan, di sana jarang kesenian dari daerah ini yang lulus murni. Banyak yang dipotong – potong, malah kadang-kadang langsung tak jadi dipagelarkan. Maklumlah di sana kekuasaan Sultan. Kuat menjaga marwah dan agama, menegakkan adat serta martabat.

            Dengan semangat yang gigih, pagi itu anak-anak memberanikan diri, bermain di depan anggota Badan Sensor Kerajaan Brunei Darussalam. Adegan demi adegan berlangsung dengan penuh hikmat, akhirnya mereka berhasil menamatkan permainan. Semua pendukung peran di suruh berdiri, Asrizal dan Saya tegak di depan. Satu persatu anggota sensor mengomentari. Ketua Badan Sensor mengacungkan jempolnya. Berarti Teater Bangsawan “Keris Menjadi Saksi” boleh dipentaskan. Semua pemain, Asrizal dan saya termasuk teman-teman yang membantu kita di sana bersorak gembira dengan rasa bangga. Jarang teater yang begituan ‘menceritakan tentang kebusukan orang-orang kerajaan ‘ diluluskan oleh Badan Sensor di sana.

            Begitulah kerja keras. Berkat kebersamaan antara pemain, sutradara, penulis naskah, penata artistic, penata video, penata lampu, make up, dan penata busana . Semuanya dapat diselesaikan. Gambaran hitam putih suatu lakon  dapat memberikan penjelasan, dan dinikmati para penonton tanpa keraguan. Yang sangat menggembirakan lagi adalah bahwa pementasan ini dibantu sepenuhnya  oleh Radio dan Televisi Brunei Darussalam. Kami diberi keleluasaan untuk menggunakan peralatan dekor studio, menggunakan ruang make-up (malah bagian seksi solek tv Brunei langsung turun tangan me make-up anak-anak), disamping kami juga mendapat panduan penyesuaian pentas oleh mereka.

crew solek TV Brunei ikut membantu make-up anak-anak


Seksi Studio TV Brunei ikut terlibat dalam penataan pentas

Foto bersama sehabis pagelaran di Auditorium Radio & Televisi Brunei Darussalam
Bandar Seri Begawan


            Keberhasilan ini amat mengagumkan. Ini dibuktikan lewat tempik sorak ratusan penonton yang memecah kesunyian  Ruang Auditorium Radio & Televisi Brunei malam itu.  Para penonton tak urung pulang. Mereka naik kepentas berfoto bersama. Malah ada diantara kawan-kawan yang secara berbisik-bisik mendapat tawaran pekerjaan kalau mau tinggal di sana. Ada pula yang saling tukar nomor hp. Ada yang nyajak datang lagi dalam even yang lain seperti main sepak bola dan sebagainya dan sebagainya. Inilah keberhasilan. Kurang tidur beberapa  minggu belakangan tak lagi jadi masalah. Begitulah, penat dan letih telah terobati dengan ketawa. Suatu keberhasilan yang patut dibanggakan memang.


Secuil Kepedihan yang tersisa
           
            Dibalik keberhasilan ‘Pusat Latihan Teater Semenanjung‘ yang dengan susah payah melangkah, menelapak meninggalkan jejak mengangkat budaya Melayu, sebagai ajang usaha kreativitas untuk ikut menyukseskan program pembangunan Provinsi Riau yang sedang asyik-asyiknya bersolek diri  menuju ‘TERWUJUDNYA PROVINSI RIAU, SEBAGAI PUSAT PEREKONOMIAN DAN KEBUDAYAAN MELAYU, DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT YANG AGAMIS, SEJAHTERA LAHIR DAN BATIN DI ASIA TENGGARA’ TAHUN 2020. Citra kebersamaan itu tiba-tiba ternodai dengan rasa saling curiga antara Pimpinan Rombongan yang katanya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tingkat I Riau dengan para anggota. Hal ini dibuktikan dengan tidak hadirnya Pimpinan Rombongan dari Riau pada beberapa acara puncak seperti Diskusi Bahasa dan Sastra. Pimpinan Rombongan seolah-olah dengan sengaja, sejak awal selalu membiarkan apa adanya (tak pernah mengunjungi pemondokan anggota) dan sama sekali tak hendak memberikan motivasi kepada para pemain yang sudah bersusah payah mengorbankan kuliah mereka demi negerinya. Hal ini terbukti dengan tidak adanya temu ramah seperti sesekali makan atau minum teh bersama. Mereka seolah olah sengaja memisahkan diri dari rombongan yang dipimpinnya. Tidah hadirnya pemakalah Fakhrunnas M.A. Jabbar dalam Diskusi Bahasa dan Sastra tersebut, karena ketersinggungannya dengan sikap/ perlakuan Dinas Kebudayaan. Yang amat menyedihkan adalah uang lelah anak-anak yang jumlahnya tak seberapa itu, yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membeli cendramata, baru di bayarkan setelah berada dalam ruang tunggu Bandara Berunai Darussalam (beberapa menit akan kembali ke Jakarta). Tapi tak mengapa.

            Kita semua berharap untuk lebih maju kedepan. Salah besar diperkecil, salah kecil dihilangkan. Dengan demikian semua kita dapat berusaha kembali menjaga marwah dan budaya,
                       
                          yang tua tahu kedudukannya
                          yang muda tahu tempat tegaknya
                          yang pantang dibuang jauh
                          yang larang ditanam dalam
                          yang budi ditanam tumbuh
                          yang niat dihajat dapat
                         

semoga………!!!







                   

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wr wb
    saya tertarik dengan lakon 'Keris Menjadi Saksi'

    saya boleh minta naskah nya nggak ?


    salam budaya

    BalasHapus
  2. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=201556926700314&set=a.191298114392862.1073741825.137435453112462&type=1&theater

    Jaya Teater Klasik Bangsawa...

    BalasHapus