Rabu, 21 November 2012

VISUAL PUISI





SENI PERTUNJUKAN SASTRA VISUAL PUISI
IBRAHIM SATTAH




            Puncak kejayaan  Seni Pertunjukan (baca teater) di Riau berkisar sekitar tahun 80-an.  Pergerakan ini diawali dengan tumbuhnya secara beruntun grup-grup teater di daerah yang dimotivasi oleh Departemen Penerangan RI, yang melaksanakan Lomba Pertunjukkan Rakyat sejak dari kecamatan, kabupaten, provinsi sampai berakhir di tingkat nasional setiap tahunnya. Kemudian lahirnya ‘Praktikum Sastra’ Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fkip Unri yang dipromotori oleh Syafruddin Saleh.Sai Gergaji; Al-Azhar; Temul Amsal; Dasri Al-mubari dengan ketua Program tudinya Dra.Saidat Dahlan pada tanggal 4 Februari 1980. Kembalinya Ediruslan Pe Amanriza ke Pekanbaru, setelah sekian lama bermukim di kota Padang. Semaraknya kegiatan kesenian di ‘Gedung Serbaguna, Pusat Olah Seni Taman Budaya Pekanbaru pimpinan OK.Nizami Jamil, ditambah lagi dengan sanggar2 teater ada di Ibukota Propinsi ini antara lain : Sanggar teater “BAHANA” (Idrus Tintin), teater “GEMA” (Temul Amsal); Sanggar teater BTB (Ibrahim Sattah) ; Sanggar teater “Depdikbud Kodya” (M.Rasul) ; Sanggar teater “DANDAN LAKSEMANA” (Rusli Not) : Teater “BIANGLALA” (T. Ubaidillah) ; Teater “OBOR” (Fakhraini MA.Jabbar). BINA TEATER BANGKIT (Dasri Al-Mubari) ; Sanggar teater “LOPAK” (Tyas.AG) Teater IAIN SUSQA (Ayatullah Aris Abeba) dan banyak lagi yang saya tak ingat lagi namanya.

            Seperti kata yang diucapkan Seniman Indonesia Leon Agusta ketika menyampaikan ceramahnya di depan peserta lomba Festival Teater Remaja 27 Januari 1984 di Pekanbaru, :  “Membangkitkan kembali kegagahan teater di Riau, haruslah lahir dari desa-desa, dari sudut-sudut keterpencilan Riau. Sementara Pekanbaru hanya cocok untuk pesta dan mabuk-mabuk”, (Genta, Minggu IV, Januari 1984), Beliau juga mengemukakan bahwa teater di Riau mencul gagah dengan kemurniannya, semantara kebanyakan teater di kota-kota besar seperti Jakarta berlomba-lomba menjadi modern, lebih modern dan sebagainya tanpa menempah kemodernan baik-baik.

            Dalam kancah pergolakan teater di Riau inilah, di Pekanbaru, Ibrahim Sattah melahirkan sebuah bentuk pementasan yang lain dari bentuk biasa. Pementasan itu diberinya nama “VISUAL PUISI”.

            Kalau begitu apa itu “VISUAL PUISI”….?  Dan bagai mana pula bentuk serta tata-cara pementasannya….? Untuk menjawabnya tentu Saya juga terpaksa kembali berbalik kebelakang. Meninjau lagi perkataan Ibrahim Sattah sekitar tahun 80-an, dalam salah satu diskusi sastra di Aula Universitas Islam Riau di jalan M.Yamin (dekat pasar Senapelan sekarang) yang waktu itu dihadiri oleh banyak seniman diantaranya : Saya, Syafrudin Saleh Sai.Gergaji, Fakhrunas MA.Jabbar, Al Azhar dan Bang Rida Kaliamsi. Banyak diantara yang hadir, meminta penjelasan kepada Ibrahim Sattah tentang sajak-sajak beliau yang amat sulit dimengerti oleh pembaca maupun pendengarnya. Saya masih ingat, dengan senyum beliau menjawab , “Kalau sajak-sajak saya dapat diartikan sebagaimana prosa, lebih baik saya berpidato saja”.

            Agaknya tinjauan saya tentang jawaban Ibrahim Sattah terhadap sajak-sajaknya di atas, bisa dijadikan bahan perenungan guna menjawab pertanyaan tentang apa itu Visual Puisi. Menurut hemat saya seandainya para penonton pertunjukan yang diberinya nama Visual Puisi itu dengan mudah mampu menerjemahkan apa yang dilihatnya, tentu Ibrahim akan menyutradarai anak-anak teaternya bermain drama saja. Tapi buktinya kan tidak. Kemampuan Ibrahim dalam soal ini memang perlu diacungkan jempol. Tanpa kita tahu ‘apa dan mengapa’, secara tiba-tiba kita terpukau oleh penampilannya. Kita seolah-olah berada di dunia lain…heran, kagum dan terperangah, sehingga tak sadarkan teman yang berada sama menonton di kiri kanan kita.  Dalam pementasannya dia tidak banyak menggunakan property.  Ketika saya datang menghadiri sebuah pertunjukannya. Ketika layar di buka, yang saya lihat  hanyalah pentas kosong dengan latar belakang layar hitam sebagaimana biasanya.  Seseorang masuk  membacakan  satu kata “pukau” (mungkin itu judul sebuah sajak). Tapi alangkah terkejutnya saya ketika suara itu menimbulkan gema dari segala arah, berbarengan dengan itu  dari latar hitam di belakang pentas, bermunculan berpuluh-puluh kepala lelaki dan perempuan sambil meneriakkan beberapa baik sajak dengan kata-kata puitis. Sebelumnya peristiwa di pentas itu tak pernah terbayangkan dalam benak saya. Ibrahim memang hebat.

            Selain Ibrahim, teater “BAHANA” juga sering menam pilkan Visual Puisi dalam berbagai acara. “Praktikum Sastra” Program Studi Bahasa Indonesia Jurusan Bahasa dan Seni FKIP UNRI malah setiap tahun melombakan pergelaran Visual Puisi untuk Umum. Acara perlombaan ini tercatat di Leident – Belanda. 

 --------------


Selasa, 13 November 2012

PERGELARAN TEATER







PERGELARAN TEATER
SEKITAR BANDAR SERAI PEKANBARU
KEHILANGAN SOSOKNYA



Anjungan Seni Idrus Tintin


            Saya sangat bergembira, ketika dua orang rekan mengajak saya nonton pergelaran teater di Bandar Serai Pekanbaru pada tanggal  10 Nopember 2012 yang lalu. Pergelaran tersebut diisi oleh lebih kurang 14 Sanggar Teater dalam rangka menyemarakkan Hari Teater Moderen Riau. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang perkembangan teater di daerah ini.

            Sebagai seorang pencinta Seni Teater, saya sudah dapat membayangkan, betapa megahnya upacara yang dimeriahkan dengan pergelaran dari sekian banyak grup. Cuman suatu pertanyaan timbul di benak saya, apakah 14 sanggar teater tersebut bisa habis tampil dalam satu malam. Sedangkan menurut pengalaman waktu saya sering jadi juri Pertunjukan Rakyat di Departemen Penerangan dulu, paling banyak dalam satu malam hanya dapat ditampilkan tiga pergelaran saja. Mengingat satu pergelaran yang paling minim untuk sebuah pementatasan diperlukan waktu 30 menit, tambah 10 menit guna pengaturan setting, untuk satu pertunjukan teater konfensional.

            Macam mana dengan teater modern yang pagelarannya penuh dengan teaterikal dan kecanggihan tekhnologi saat ini, disamping naskah, sutradara dan para pemain sebagai aktor, rias wajah, tata panggung dan tata lampu mempunya keunikan pula dengan nuansa seni tersendiri dalam mendukung pergelara tersebut. Kalau ini diabaikan, berarti kita kembali lagi berpijak dari dasar semula, seperti di tahun 60-an.

            Betapa tersentuh dan terenyuhnya hati saya, saat saya Kazzaini KS, Mosthamir Thalib (ketua dan wkl ketua DKR) dan Tengku Ubaidillah.(tokoh Drama Klasik Riau) sampai di tempat pergelaran.

            Ternyata pergelaran teater modern dalam rangka memeriahkan Hari Teater Modern Riau 10 Nopember tersebut dilaksanakan di pelataran halaman Anjungan Seni Idrus Tintin. Diatas tanah, tanpa pentas, dengan hanya diterangi lampu jalan. Layaknya seperti layaknya menonton sebuah pertunjukan randai di tahun 80-an. Waktu pergelaran satu sanggar tak lebih dari 10 sampai lima belas menit.

            Inikah ‘Teater Modern’ itu…? Tanya Kazzaini Ketua Dewan Kesenian yang berdekatan dengan saya. Saya juga bingung jadinya… Terus terang saya tak dapat menjawab pertanyaan salah seorang rekan saya. Sebab menurut pengalaman saya, bentuk pergelaran macam itu adalah pergelaran teater tradisional zaman dulu. Tapi kalau ini juga mau dikatakan ‘teater modern’, saya juga tak tahu, karena saya bukanlah seorang pakar dibidang ilmu teater, dan saya tidak punya ijazah sekolah teater. Bagi saya teater hanya kegemaran sejak kecil sampai saat ini. Berbeda sekali dengan kebanyakkan dari mereka yang sedang melakukan pergelaran tersebut, sebab mereka  adalah mahasiswa “Sekolah Tinggi Kesenian Riau” jurusan teater yang punya pengetahuan luas tentunya. Disamping itu amat disayangkan kalau pergelaran dalam rangka Pencanangan Hari Teater Modern Riau dilakukan di halaman, dengan peralatan seadanya, padahal di belakang mereka tersergam sebuah Gedung teater yang serba modern (katanya bertaraf internasional) yang biayanya pembangunannya puluhan miliar rupiah.

            Herannya saya, sewaktu diskusi dilaksanakan selepas pergelaran tersebut, masing2 dengan penuh kebanggaan mengeluarkan pendapat, bahwa merekalah pewaris dan penerus perkembangan ‘teater modern di Riau’ yang bakal memberikan warna baru di kancah perteateran 'Indonesia' (baca : Raiau Pos.co “ Hari Teater Modern Riau dideklarasi kan”).
               Sebagai seorang pencinta teater, saya merasa kecewa dengan pergelaran teater yang akhir-akhir ini saya saksikan   di Bandar Serai Pekanbaru ( baik di Anjungan Seni Idrus Tintin maupun di Laman Bujang Mat Syamsudin.) Terus terang saya katakana, beberapa bulan terakhir saya belum pernah menyaksikan pergelaran teater (baik teater modern, konvensional atau tradisional) dengan tata cara / pola yang sebenarnya. Yang selalu saya lihat hanyalah pergelaran sejenis ‘eksprimen’, ‘monolog’ dan pergelaran ‘ala teater tradisional’ itu tadi. Malah pada malam tanggal 12 Nopember lalu, setelah membaca sajak dengan teman2 wartawan, saya juga nonton sebuah pergelaran “Visual Puisi” yang dipergelarkan oleh mahasiswa jurusan teater. Sekolah Tinggi Kesenian Riau tersebut di  gerbang pintu masuk Bandar Serai Pekanbaru….Nyatanya yang saya lihat hanyalah suatu lakon fragment, tanpa setting pentas yang memadai.

Sebaiknya, sebagai pekerja teater yang belum profesional, mereka mau bertimbang rasa dengan mementaskan karya-karya penulis naskah yang sudah mapan terlebih dahulu, sementara mereka terus berusaha mendalami dramaturgi, pola-pola teater yang sudah ada dan mempelajari bagaimana tata-cara penulisan naskah drama yang baik.


Naskah Teater Bangsawan karya Teras dan Teas
"ABU NAWAS" yang ditulist tahun 1960



Naskah Teater Bangsawan karya Tenas Effendy 
" LAKSEMANA MEGAT SERI RAMA" ditulis tahun 1962


Bagi insan teater, terutama bagi mereka yang bakal menjadi pemegang estapet pengembangan kehidupan teater di Riau, saya sangat berharap agar pengertian 'teater modern' jangan dipersempit. terfocus berdasar teori yang hanya didapat di buku petunjuk dan mata kuliah saja. Kalau hanya sekedar :
-     pengadaan naskah
      -         penyutradaraan
      -         penceritaan keadaan yang berkembang saat ini
      -         dan tata busana zaman sekarang

Teater-teater daerah (teater konvensional) seperti Dul Muluk, Teater Bangsawan, Mendu dll, sudah sejak tahun 60-an melakukan hal yang sama.


batang gaharu diatas gunung
usah dipepat dibuat sampan
kalau baru mula berdayung
jangan nak cepat sampai ketujuan

Selamat berkereatifitas…..!!!