PUSAT LATIHAN SENI “SEMENANJUNG”
Memperkaya kesenian nasional dengan Teater Bangsawan dari Riau
Oleh : Temul Amsal
-------------------------------------------------------
Dimana ada
kemauan disitu ada jalan. Begitulah
sikap sekelompok anak muda asal Riau yang kuliah di Jakarta melaksanakan sepak
terjangnya melakukan kreatifitas dibidang seni menyeni demi memperkenalkan
keberadaan daerah mereka di tingkat nasional. Walau beum mampu berdiri sejajar
dengan Ketoprak, Lenong Betawi dan seni pertunjukan sejenisnya yang memang sudah berurat-berakar
di daerah tersebut, setidak-tidaknya mereka telah berusaha menggali lobang untuk menegakkan
panji-panji kesenian Riau di Ibukota Negara ini. Dengan demikian secara berangsur-angsur, orang akan mengenal Riau tatkala satu persatu diantara mereka menoleh dan memperhatikan negeri Melayu Riau pada saat panji-panji itu berkibar.
Dalam hal ini peran Asrizal Nur,
(seniman) putra kelahiran Pekanbaru, yang kini bermukim di Jakrta, sebagai pencetus ide, kemudian didukung sepenuhnya oleh HM.Lukman Edy, (Ketua Umum Persatuan
Masyarakat Riau Jakarta) PMRJ, merupakan landasan utama sebagai dasar berpijak bagi
pengembangan kreatifitas anak-anak muda tersebut.
Berdirinya Pusat Latihan Seni
“Semenanjung “ (seni melayu nan dijunjung) di tahun 2010, yang diketui oleh Robithoh Alamhadi Faisal
(mahasiswa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) tersebut, tak luput dari
motivasi yang diluncurkan oleh kedua tokoh diatas. Selanjutnya Robithoh
bersama teman-temannya dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi yang berbeda
seperti : Said Rega Syahringga, Agustina, Mhd. Damri, Deddy Hendrawan, Masitoh,
Maria Darwis, Mhd.Ashsubli, Afni Noviyanti, Mohd.Rasyid Ridho, Supriadi, Azlin
Arifin, Mhd.Zuchri Fachrun, Khairul Anwar, Ruddy dan lain-lain, patut dicatat
atas keberhasilan mereka menghidupkan kembali seni pertunjukkan Teater
Bangsawan yang di negerinya sendiri, sudah hampir menghilang dari pandangan.
Keberhasilan mereka ini, ditandai dengan pagelaran perdananya berjudul ‘Keris
Menjadi Saksi’ naskah Temul Amsal yang disutradarai oleh Asrizal Nur, di Gedung
Kesenian Miss Tjihtjih Jakarta tanggal 8 Agustus 2010.
Dipilihnya teater bangsawan, Menurut
HM. Lukman Edy selaku pembina; disebabkan Seni Pertunjukan Riau yang satu ini,
memiliki unsur yang kompleks, yakni terdiri dari gabungan unsur seni tari, nyanyi,
syair, humor, bela diri, sastra dan seni lakon itu sendiri. Kemudian oleh sutradaranya Asrizal Nur, seni
pertunjukan konvensional asal Riau tersebut di kolaborasikan dengan sentuhan
moderen atas bantuan beberapa tenaga ahli diantaranya Dody (penata video) dan
Parulian (penata lampu). Pageralan perdana “Semenanjung”, ini ditampilkan dengan bahasa pengantar bahasa Melayu Riau dan tanpa diduga ternyata mendapat
sambutan hangat dari kalangan seniman, mahasiswa dan masyarakat Riau Jakarta
yang turut menyaksikan pagelaran tersebut.
Teater Bangsawan yang pada mulanya berada dikalangan
istana, mengangkat cerita rakyat, cerita raja-raja masa lampau. Kemudian secara lisan cerita tersebut berkembang dari mulut ke mulut, sehingga
banyak dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Akhirnya Teater Bangsawan meluas sampai keluar istana dan dapat dinikmati masyarakat biasa sebagai sarana hiburan yang amat digemari. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya
cerita dalam Teater Bangsawan banyak mengangkat kejadian-kejadian yang terdapat dalam kehidupan masyarakat
itu sendiri. Cerita-cerita yang berkembang dalam kehidupan masyarakat ini umumnya disesuaikan dengan citarasa
masyarakat lingkungannya dan perkembangan masyarakat itu sendiri. Cerita-cerita
tersebut lebih banyak berisikan aspek - aspek kebudayaan, khususnya
kebudayaan masyarakat Melayu Riau. Cara penyajiannya dilakukan dengan selingan selingan lelucon dan tari-tarian serta nyanyian yang sifatnya menghibur, sehingga
sangat komunikatif dengan masyarakat penontonnya yang pada waktu itu terdiri dari orang-orang
melayu.
Termotivasi oleh keberhasilan
pagelaran perdananya ini, menimbulkan semangat dan keinginnan anak-anak muda tersebut semakin
menggejolak. HM.Lukman Edy menyambut baik hal ini, ia menyewakan sebuah rumah
di Ciputat, rumah tersebut djadikan Sanggar tempat anak-anak melaksanakan latihan, disamping pihak pengelola Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah juga memberikan kesempatan bagi anak-anak muda ini untuk melakukan latihan di sana. Hingga pada suatu ketika
pagerlaran tersebut oleh PMRJ, DPRD Riau, Gubernur Riau yang direstui oleh Kementrian
Pariwisata RI merasa perlu Kesenian Riau ini dipublikasikan ke Asia Tenggara, sebagai Duta Budaya
Bangsa di Asia Tenggara khususnya untuk kalangan muda.
Road Show Asia
Tenggara, (Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) dilaksanakan pada bulam
Oktober 2010. Dilepas oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia dengan satu pagelaran di Gedung Sapta Pesona
Jakarta tanggal 21 Oktober 2010, yang disaksikan oleh 12 (dua belas) orang Duta Besar Negara
Tetangga, Ketua DPRD Riau, Gubernur Riau, Ketua Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Riau, beberapa pejabat terkait dan para undangan, malam sebelum rombungan berangkat ke Brunai Darussalam.
Kedatangan Rombongan di Brunei Darussalam mendapat sambutan hangat
dari ASTERAWANI (Angkatan Sasterawan dan Sasterawani) Brunei. Pagelaran
dilaksanakan di Dewan Raya Radio Televisyen Brunei, Bandar Seri Begawan tanggal
23 Oktober 2010. Dihadiri oleh tamu kehormatan Yang Mulia Dato Paduka Awang
Haji Jemat bin Haji Ampal, Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan, dari Dewan Bahasa
dan Pustaka, dari Radio Televisyen Brunei, dari Klab Rakis (Universitas Brunei
Darussalam), Kedutaan Besar Republik Indonesia Brunei, Media Massa dan lain sebagainya.
Keberhasilan Road Show Asia Tenggara ini, tidak berakhir sampai di situ. Pada
priode 2011 dengan ketua Sanggar : Said Rega Syahringga. PLS.”Semenanjung” telah
pula melaksanakan pagelaran Teater Bangsawan “Batang Tuaka” , tari melayu, baca sajak, dan nyanyi di beberapa tempat
di Jakarta. malah ikut ambil bagian dalam lomba lagu Melayu di TVRI pusat. Tahun 2012 di Pagelarkan pula Teater Bangsawan dengan judul
“Lancang Kuning” naskah Temul Amsal yang disutradarai Asrizal Nur. Pagelaran
ini telah di lakukan di Jogjakarta dan Pekanbaru pada bulan Februari 2012 yang
lalu, selanjutnya akan dilaksanakan
pula di beberapa tempat di Jakarta.
Pergelaran
Teater Bangsawan dengan Naskah “Lancang Kuning” ini dimaksudkan dengan tujuan,
memperkenalkan Bumi Lancang Kuning ke forum nasional. Setelah itu rencananya
akan melang-lang buana ke Australia.
Semangat anak muda
yang berasal dari berbagai kabupaten di Riau yang melanjutkan studinya di
berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan bergabung dalam Sanggar PLS “Semenanjung” tersebut patut diacungkan jempol. Karena kreatifitas berkesenian
mereka merupakan suatu upaya memperkaya khasanah kesenian nasional dengan
memasukkan Teater Bangsawan salah satu cabang kesenian Riau yang selama ini mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang Riau sendiri, malah dianggap sebagai suatu cabang kesenian usang yang tak ada nilainya sama sekali.
Sebenarnya Sanggar
PLS “Semenanjung” juga melakukan
kegiatan beberapa jenis cabang kesenian lainnya, seperti : Tari, musik, seni suara dan seni sastra,
namun dalam hal ini yang saya bahas khusus seni peran, yaitu Teater Bangsawan,
dikarenakan dari cabang-cabang kesenian lainnya Teater Bangsawan saya anggap merupakan sosok
yang mewarnai kehidupan sanggar tersebut.
Disamping
itu, karena PLS “Semenanjung” ini hanya dikelola oleh kalangan mahasiswa Riau
yang melanjutkan studinya di Jakarta, yang apabila tidak mendapat dukungan
sepenuhnya oleh pemerintah provinsi Riau, DPRD Riau, Dewan Kesenian Riau dan pihak-pihak
yang berkompeten dalam hal ini, dikhawatirkan lambat laun PLS “Semenanjung” yang mengharumkan
nama negeri ini di kancah nasional tersebut, lama kelamaan akan meredup dan akhirnya menghilang begitu saja.
-------------





