Sabtu, 24 Maret 2012

"SEMENANJUNG" Seni Melayu Nan Dijunjung




PUSAT LATIHAN SENI “SEMENANJUNG”

Memperkaya kesenian nasional dengan Teater Bangsawan dari Riau



Oleh : Temul Amsal

-------------------------------------------------------

          Dimana ada kemauan disitu ada jalan.  Begitulah sikap sekelompok anak muda asal Riau yang kuliah di Jakarta melaksanakan sepak terjangnya melakukan kreatifitas dibidang seni menyeni demi memperkenalkan keberadaan daerah mereka di tingkat nasional. Walau beum mampu berdiri sejajar dengan Ketoprak, Lenong Betawi dan seni pertunjukan sejenisnya yang memang sudah berurat-berakar di daerah tersebut, setidak-tidaknya mereka telah berusaha menggali lobang untuk menegakkan panji-panji kesenian Riau di Ibukota Negara ini. Dengan demikian secara berangsur-angsur, orang akan mengenal Riau tatkala satu persatu diantara mereka menoleh dan memperhatikan negeri Melayu Riau pada saat panji-panji itu berkibar.


Dalam hal ini peran Asrizal Nur, (seniman) putra kelahiran Pekanbaru, yang kini bermukim di Jakrta, sebagai pencetus ide, kemudian didukung sepenuhnya oleh HM.Lukman Edy, (Ketua Umum Persatuan Masyarakat Riau Jakarta) PMRJ, merupakan landasan utama sebagai dasar berpijak bagi pengembangan kreatifitas anak-anak muda tersebut.


Berdirinya Pusat Latihan Seni “Semenanjung “ (seni melayu nan dijunjung) di tahun 2010, yang diketui oleh Robithoh Alamhadi Faisal (mahasiswa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) tersebut, tak luput dari motivasi yang diluncurkan oleh kedua tokoh diatas. Selanjutnya Robithoh bersama teman-temannya dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi yang berbeda seperti : Said Rega Syahringga, Agustina, Mhd. Damri, Deddy Hendrawan, Masitoh, Maria Darwis, Mhd.Ashsubli, Afni Noviyanti, Mohd.Rasyid Ridho, Supriadi, Azlin Arifin, Mhd.Zuchri Fachrun, Khairul Anwar, Ruddy dan lain-lain, patut dicatat atas keberhasilan mereka menghidupkan kembali seni pertunjukkan Teater Bangsawan yang di negerinya sendiri, sudah hampir menghilang dari pandangan. Keberhasilan mereka ini, ditandai dengan pagelaran perdananya berjudul ‘Keris Menjadi Saksi’ naskah Temul Amsal yang disutradarai oleh Asrizal Nur, di Gedung Kesenian Miss Tjihtjih Jakarta tanggal 8 Agustus 2010.


          Dipilihnya teater bangsawan, Menurut HM. Lukman Edy selaku pembina; disebabkan Seni Pertunjukan Riau yang satu ini, memiliki unsur yang kompleks, yakni terdiri dari gabungan unsur seni tari, nyanyi, syair, humor,  bela diri, sastra dan seni lakon itu sendiri.  Kemudian oleh sutradaranya Asrizal Nur, seni pertunjukan konvensional asal Riau tersebut di kolaborasikan dengan sentuhan moderen atas bantuan beberapa tenaga ahli diantaranya Dody (penata video) dan Parulian (penata lampu). Pageralan perdana “Semenanjung”, ini ditampilkan dengan bahasa pengantar bahasa Melayu Riau dan tanpa diduga ternyata mendapat sambutan hangat dari kalangan seniman, mahasiswa dan masyarakat Riau Jakarta yang turut menyaksikan pagelaran tersebut.



          Teater Bangsawan yang pada mulanya berada dikalangan istana, mengangkat cerita rakyat, cerita raja-raja masa lampau. Kemudian secara lisan cerita tersebut   berkembang dari mulut ke mulut, sehingga banyak dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Akhirnya Teater Bangsawan meluas sampai keluar istana dan dapat dinikmati masyarakat biasa sebagai sarana hiburan yang amat digemari. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya cerita  dalam Teater Bangsawan banyak mengangkat kejadian-kejadian yang terdapat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Cerita-cerita yang berkembang dalam kehidupan masyarakat ini  umumnya disesuaikan dengan citarasa masyarakat lingkungannya dan perkembangan masyarakat itu sendiri. Cerita-cerita tersebut lebih banyak berisikan aspek - aspek kebudayaan, khususnya kebudayaan masyarakat Melayu Riau. Cara penyajiannya dilakukan dengan selingan selingan lelucon dan tari-tarian serta nyanyian yang sifatnya menghibur, sehingga sangat komunikatif dengan masyarakat penontonnya yang pada waktu itu terdiri dari orang-orang melayu. 

          Termotivasi oleh keberhasilan pagelaran perdananya ini, menimbulkan semangat dan keinginnan anak-anak muda tersebut semakin menggejolak. HM.Lukman Edy menyambut baik hal ini, ia menyewakan sebuah rumah di Ciputat, rumah tersebut djadikan Sanggar tempat anak-anak melaksanakan latihan, disamping pihak pengelola Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah juga memberikan kesempatan bagi anak-anak muda ini untuk melakukan latihan di sana. Hingga pada suatu ketika pagerlaran tersebut oleh PMRJ, DPRD Riau, Gubernur Riau yang direstui oleh Kementrian Pariwisata RI merasa perlu Kesenian Riau ini dipublikasikan ke Asia Tenggara, sebagai Duta Budaya Bangsa di Asia Tenggara khususnya untuk kalangan muda.





Road Show Asia Tenggara, (Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) dilaksanakan pada bulam Oktober 2010. Dilepas oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia dengan satu pagelaran  di Gedung Sapta Pesona Jakarta tanggal 21 Oktober 2010, yang disaksikan oleh 12 (dua belas) orang Duta Besar Negara Tetangga, Ketua DPRD Riau, Gubernur Riau, Ketua Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Riau, beberapa pejabat terkait dan para undangan, malam sebelum rombungan berangkat ke Brunai Darussalam.

Kedatangan Rombongan  di Brunei Darussalam mendapat sambutan hangat dari ASTERAWANI (Angkatan Sasterawan dan Sasterawani) Brunei. Pagelaran dilaksanakan di Dewan Raya Radio Televisyen Brunei, Bandar Seri Begawan tanggal 23 Oktober 2010. Dihadiri oleh tamu kehormatan Yang Mulia Dato Paduka Awang Haji Jemat bin Haji Ampal, Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan, dari Dewan Bahasa dan Pustaka, dari Radio Televisyen Brunei, dari Klab Rakis (Universitas Brunei Darussalam), Kedutaan Besar Republik Indonesia Brunei, Media Massa  dan lain sebagainya.
                    


          Keberhasilan Road Show Asia Tenggara ini, tidak berakhir sampai di situ. Pada priode 2011 dengan ketua Sanggar : Said Rega Syahringga. PLS.”Semenanjung” telah pula melaksanakan pagelaran Teater Bangsawan “Batang Tuaka” , tari melayu, baca sajak, dan nyanyi di beberapa tempat di Jakarta. malah ikut ambil bagian dalam lomba lagu Melayu di TVRI pusat. Tahun 2012 di Pagelarkan pula Teater Bangsawan dengan judul “Lancang Kuning” naskah Temul Amsal yang disutradarai Asrizal Nur. Pagelaran ini telah di lakukan di Jogjakarta dan Pekanbaru pada bulan Februari 2012 yang lalu, selanjutnya  akan dilaksanakan pula di beberapa tempat di Jakarta.

          Pergelaran Teater Bangsawan dengan Naskah “Lancang Kuning” ini dimaksudkan dengan tujuan, memperkenalkan Bumi Lancang Kuning ke forum nasional. Setelah itu rencananya akan melang-lang buana ke Australia.

Semangat anak muda yang berasal dari berbagai kabupaten di Riau yang melanjutkan studinya di berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan bergabung dalam Sanggar PLS “Semenanjung” tersebut patut diacungkan jempol. Karena kreatifitas berkesenian mereka merupakan suatu upaya memperkaya khasanah kesenian nasional dengan memasukkan Teater Bangsawan salah satu cabang kesenian Riau yang selama ini mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang Riau sendiri, malah dianggap sebagai suatu cabang kesenian usang yang tak ada nilainya sama sekali. 
 
Sebenarnya Sanggar PLS “Semenanjung” juga melakukan kegiatan beberapa jenis cabang kesenian lainnya, seperti : Tari, musik, seni suara dan seni sastra, namun dalam hal ini yang saya bahas khusus seni peran, yaitu Teater Bangsawan, dikarenakan dari cabang-cabang kesenian lainnya Teater Bangsawan saya anggap merupakan sosok yang mewarnai kehidupan sanggar tersebut.

          Disamping itu, karena PLS “Semenanjung” ini hanya dikelola oleh kalangan mahasiswa Riau yang melanjutkan studinya di Jakarta, yang apabila tidak mendapat dukungan sepenuhnya oleh pemerintah provinsi Riau, DPRD Riau, Dewan Kesenian Riau dan pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini, dikhawatirkan lambat laun PLS “Semenanjung” yang mengharumkan nama negeri ini di kancah nasional tersebut, lama kelamaan akan meredup dan akhirnya menghilang begitu saja.
         

         
-------------

Rabu, 21 Maret 2012

Pengukuhan " LAM " Riau 21-3-1912







“ ADAT YANG TAK LAPUK DIK HUJAN “

Etika/Sopan Santun Yang  Perlu Dipertahankan


Oleh : Temul Amsal

        -----------------------------------------------------------------------------------
        Kita semua tentu sering mendengar sebuah ungkapan “Tak lapuk dik hujan, tak lekakng dik panas”.  Kata-kata ini bukan hanya sebuah sajak rekaan seorang seniman picisan. Bukan pula sebuah kata mutiara, ungkapan cengeng sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara.  Ungkapan diatas telah lahir jauh sebelum sejarah Melayu yang di tulis oleh Tun Sri Lanang tahun 1535 H (Slamet Mulyono).  Ungkapan tersebut mencerminkan betapa kuatnya orang Melayu mempertahankan adatnya. Malah dalam ungkapan lain disebutkan “ biar mati anak asal jangan mati adat’.

        Berbicara tentang Adat, kita tak bisa lari dari mengulas tentang sikap dan prilaku manusia. Namun banyak saja orang keliru dan salah mengartikan kata ‘adat’. tersebut. Kebanyakan orang, apalagi generasi muda sekarang, beranggapan bahwa adat itu  merupakan kebiasaan lama dan kuno. Tatkala mendengar perkataan ‘adat’ , yang terbayang di benak mereka adalah, orang tua-tua yang berpakaian  daerah atau rumah ciri khas Melayu . Jadi tak heran kalau kita sering mendengar perkataan  pakaian adat atau rumah adat. Banyak pula yang mereka-reka sendiri bahwa adat itu adalah  ‘tradisi’. masyarakat di suatu daerah. Padahal semua ini merupakan suatu kekeliruan yang lambat laun akan dapat menyesatkan dan melencengkan kata ‘adat’ tersebut dari arti  sebenarnya.

 Foto Lembaga Adat Tempo Dulu

        Adat merupakan ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia dalam segala aspek kehidupan lingkungannya, karenanya adat merupakan sumber hukum yang tidak tertulis. Sebelum bangsa kita mengenal hukum  (Barat), adat inilah yang dijadikan sumber hukum dalam masyarakat kita.  Sumber hukum ini begitu dipercayai dan disetujui oleh semua golongan masyarakat di suatu lingkungan tertentu dikarenakan sifatnya yang amat komunikatif. Dengan melihat sikap dan prilaku seseorang saja, (tanpa membaca buku yang tebalnya beratus-ratus halaman)  orang sekitarnya sudah dapat menilai bahwa orang tersebut melanggar adat atau tidak.

        Norma-norma  yang berlaku dalam masyarakat di suatu daerah, merupakan suatu kekuatan hukum yang mengikat. Norma-norma tersebut terdiri dari : cara (usage), kebiasaan (folkways), tata laku (mores). Masing-masing pengertian tersebut menunjukkan adanya norma kemasyarakatan yang harus dipedomani oleh seseorang atau sekelompok orang dalam bertingkah laku.  Hal inilah yang seharusnya dijadikan patokan oleh  ‘kita’ selaku masyarakat, khususnya masyarakat Melayu Riau yang berada dalam lingkungan adat yang sama- sama kita hormati.


Adat dan Kebudayaan

        Berbicara tentang adat, kita tak bisa tidak mesti berbicara tentang kebudayaan. Kebudayaan merupakan system nilai dan gagasan yang menjadi pedoman bagi pola tingkah laku manusia. Nilai-nilai yang baik ataupun yang buruk. Nilai apa yang diharapkan atau yang dapat memotivasi masyarakat menuju arah kebaikan.

            Saya memang tidak ingin mengomentari panjang lebar dalam hal ini, kecuali salah satu unsur yang amat mendasar dari kebudayaan kita yaitu ‘etika dan sopan santun’.  Khususnya lagi 'sopan santun dalam berpakaian dalam suatu upacara'. Menambah, mengurangi ataupun mereka-reka sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan, merupakan suatu pelanggaran yang seharusnya tak boleh terjadi. Apalagi seandainya pelanggaran itu dilakukan oleh sekelompok orang-orang yang berada dilingkungan Lembaga  Adat itu sendiri.


  
"Pawai Adat Riau" dalam festival Kraton Surakarta


Suatu Pembaharuan Yang Mengambang

        Etika dan sopan santun sebagai salah satu unsur kebudayaan (adat)  amatlah berpengaruh dalam tatakrama masyarakat Melayu, khususnya masyarakat Melayu Riau. Seseorang yang bertindak sembrono dalam hal ini selalu menjadi cemooh, malah dikatakan ‘orang tak beradat’. Salah satu contoh : Sikap hormat kepada pemimpin, berbeda dengan tatakrama menghormati orangtua atau teman sebaya. Etika dan sopan santun ini dapat juga dilihat dari tata busana yang mereka pakai.  Simbol-simbol  tata busana seseorang amat berpengaruh dalam memberikan gambaran tentang dirinya seperti : tingkat umur, kepribadian, status social  dalam masyarakatnya dan lain lain. 

              Orang Melayu “zaman dahulu” . tak terlalu bersusah payah  untuk mengetahui status seseorang. Dengan melihat penampilan orang tersebut dengan tata busananya, mereka  langsung mengetahui kronologi orang tersebut. Penilaian itu dilakukan dengan cara melihat symbol-simbol yang terdapat pada tata busana yang di kenakannya serta pola bertingkah laku orang tersebut  terhadap orang lain yang berada disekitarnya.

               Sayangnya sekarang hal tersebut sudah amat sulit kita ditemui, contohnya saja pada Upacara Pengukuhan Lembaga Adat Melayu Riau yang dilaksanakan pada hari Rabu 21 Maret 2012 yang lalu.

Sulitnya kita untuk membedakan yang mana Dewan Kehormatan Adat,  yang mana  Ketua Majelis Kerapatan Adat, yang mana Ketua Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat dan yang mana anggotanya. Hal ini dikarenakan tiap-tiap orang yang berada di sana semuanya berpakaian sama  (berwarna hitam) tanpa symbol-simbol yang dapat memberikan perbedaan antara pucuk pimpinan dan anggota.

Antara siapa yang dilantik  dalam Pengukuhan itu tak jelas. Kecuali Gubernur Riau (gelar Datuk Setia Amanah) punya symbol yang berbeda. Sedangkan Tenas Effendi (Ketua Majelis Kerapatan Adat) dan Al Azhar (Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian), hanya di pasangkan sebuah tanjak dan selempang hijau dengan les kuning.  Pada hal di belakang mereka, sebelah kanan, sudah dari semula duduk beberapa anak muda persis dengan seragam, tanjak dan selempang yang sama.

Beberapa anak muda penghantar baki (berisikan tanjak dan selempang) kepada Datuk Setia Amanah, untuk dipasangkan kepada  Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat dan Ketua Umum Dewan Pmpinan Harian.  Tanjak dan selempangnya jauh lebih bagus dari tanjak ‘lambang kebesaran’ yang berada di dalam baki.

Pengaturan tempat duduk tamu yang diundang kurang teratur.  Kita mengetahui tamu hanya ketika suasana pengukuhan dimulai. Karena para tamu tetap duduk saat hadirin yang dikukuhkan berdiri. Padahal seharusnya tamu undangan disediakan tempat ‘terhormat’ , bukan ditengah-tengan  anggota yang akan dikukuhkan.

Selain itu sulit diketahui mana yang tua, yang patut dihormati dan mana yang muda. Karena mereka tak pernah memperhatikan panjang kain sampingnya. Kebanyakan diantara wanita dengan sembrono meletakkan kepala kainnya di depan, dengan maksud menampilkan bunga-bunga indah. Padahal kepala kain di depan melambangkan ‘keperawanan’. Ada yang menyisipkan keris terbalik, ada pula beberapa orang yang berusia lanjut mengenakan simbol-simbol (anak yang akan melaksanakan sunat rasul) yang memang tak pantas buat mereka.

Hampir 90 persen dari mereka yang hadir disana memakai songket, sebagian mengenakan tenun siak. Seharusnya untuk upacara ini mereka hanya diperkenankan memakai kain pelekat.


        Peristiwa ini bagi sebuah prosesi adat, saya anggap sangat memalukan. Kalaulah seandainya ‘tanjak’ dan ‘selempang’ kita dijadikan sebuah ukuran symbol kebesaran buat seorang Pimpinan Tertinggi di Lembaga adat, mengapa pembaca syair dan pembawa baki juga diperkenankan menggunakan symbol-symbol serupa, mereka kan ‘masyarakat biasa’.  Dimana letak ungkapan : yang kecil disebut nama, yang besar dihimbau gelar.  yang penghulu didahulukan, yang tua dituakan. Perlakuan seperti ini apa tidak mencemari adat.  Padahal setahu saya, kita Orang Melayu amat kuat sekali mempertahankan ini. Salah cara mengikat kain saja sudah merupakan kesalahan fatal apalagi dengan sengaja memakai busana yang tidak pada tempatnya.

        Saya berharap agar ini pada masa-masa selanjutnya dapat menjadi perhatian sepenuhnya bagi kita semua. Jangan sampai kita diistilahkan dengan kata  ‘adat yang tak beradat’.


----------------